Asma

 

 

Asma dari kata ἅσθμα Yunani, asma, atau “terengah-engah” adalah penyakit peradangan kronis pada saluran pernapasan yang secara umum diderita dan ditandai dengan adanya gejala variabel yang terjadi secara berulang, obstruksi aliran udara reversibel, dan bronkospasme. Gejala penyakit ini umumnya meliputi batuk, mengi, sesak napas, dan rasa nyeri pada bagian dada.

Penyakit Asma diduga disebabkan oleh kombinasi faktor genetik dan juga faktor lingkungan. Diagnosis itu biasanya berdasarkan pada pola gejala, respon pasien terhadap terapi dari waktu ke waktu, dan spirometri.

Hal ini secara klinis diklasifikasikan sesuai dengan frekuensi gejala, volume ekspirasi paksa dalam satu detik atau disingkat FEV1, dan laju aliran ekspirasi puncak .

Asma juga dapat diklasifikasikan sebagai atopik ekstrinsik atau non-atopik intrinsik. Di mana atopi mengacu pada kecenderungan untuk mengembangkan reaksi hipersensitivitas tipe 1.

Pengobatan gejala akut biasanya dengan agonis short-acting beta-2 inhalasi misalnya salbutamol dan kortikosteroid oral.  Dalam kasus yang sangat parah kortikosteroid intravena, magnesium sulfat dan rawat inap mungkin diperlukan.

  • Sejarah asma

Asma diakui di Mesir Kuno dan disembuhkan dengan cara meminum campuran dupa yang dikenal sebagai kyphi.

Pada  tahun 450 SM secara resmi dinamakan sebagai masalah pernapasan tertentu oleh Hippocrates dengan kata Yunani untuk “terengah-engah” membentuk dasar nama modern. Dan pada tahun 200 SM penyakit asma diyakini erat kaitannya dengan masalah psikis.

Pada tahun 1872, menyimpulkan bahwa asma dapat disembuhkan dengan menggosok dada dengan obat gosok kloroform.

Pada tahun 1873, salah satu koran pertama dalam ilmu kedokteran modern mencoba untuk menjelaskan patofisiologi pada subjek penderita penyakit asma.

Pada tahun 1880, terdapat terapi pengobatan untuk asma  termasuk penggunaan obat yang disebut pilocarpin dengan cara disuntikkan kedalam pembuluh darah.

Pada tahun 1886., FH Bosworth berteori bahwa ada kaitan dan hubungan antara asma dengan demam.

Pada tahun 1905. penggunaan Epinefrin pertama kali disebut dalam pengobatan asma.

Pada tahun 1950, kortikosteroid oral mulai dikenal dan digunakan untuk kondisi ini.

Pada tahun 1960 , kortikosteroid inhalasi agonis beta dan selektif short acting mulai diperkenalkan dan digunakan secara meluas.

Selama periode tahun 1930-an hingga tahun 50-an, asma dikenal sebagai salah satu penyakit psikosomatik atau penyakit yang berkaitan masalah psikologi.

Karena penyebabnya dianggap psikologis, sehingga sistem pengobatan sering didasarkan pada psikoanalisis dan obatan dengan cara lisan.

Seperti psikoanalis menafsirkan mengi asma sebagai seruan yang ditekan dari anak untuk ibunya, Mereka menganggap pengobatan depresi menjadi sangat penting untuk individu dengan penyakit asma.

  • Prognosis

Prognosis untuk asma umumnya baik, terutama untuk anak-anak dengan penyakit ringan. Kematian telah menurun selama beberapa dekade terakhir karena pengakuan yang lebih baik dan sistim perawatan yang lebih baik.

Penyakit asma secara global menyebabkan cacat sedang atau berat pada 19,4 juta orang dan pada  tahun 2004 ada sekitar 16 juta di antaranya berasal dari negara-negara yang berpenghasilan rendah dan menengah.

Dari diagnosis penyakit asma selama masa kanak-kanak, sekitar setengah dari kasus tidak akan lagi membawa diagnosis setelah satu dekade.

Pengobatan dengan kortikosteroid sejak dini, tampaknya dapat mencegah penyakit asma dan juga dapat membantu memperbaiki penurunan fungsi paru-paru.

Dengan meningkatkan antioksidan dalam tubuh anda mengurangi terkena berbagai penyakit yang menyangkut penurunan fungsi tubuh seiring bertambahnya usia