Berbagai Bakteri Yang Dapat Menyebabkan Keracunan Makanan

gejala keracunan makanan

gejala keracunan makanan

Ada lebih dari 250 macam penyakit yang sangat berkaitan dengan makanan. Keracunan makanan terjadi  ketika ada pathogen yang masuk ke dalam makanan maupun minuman. Kebanyakan kasus keracunan makanan disebabkan oleh adanya bakteri yang masuk ke dalam makanan maupun minuman.

Keracunan makanan terjadi ketika bakteri yang masuk ke dalam makanan mengeluarkan enterotoksin maupun racun, sebagai produk sampingan dari pertumbuhan bakteri tersebut.

Adanya racun dalam makanan akan mengurangi kemampuan tubuh kita khususnya usus dalam menyerap makanan serta menyebabkan sekresi air maupun elektrolit yang mengarah ke dehidrasi.

Tingkat keparahan gejala dari keracunan makanan sangat tergantung pada jenis bakteri, jumlah bakteri, jumlah makanan yang dikonsumsi, kesehatan dari individu yang mengkonsumsi serta kepekaan terhadap racun dari bakteri yang masuk dalam makanan.

Kita tidak dapat merasakan, mencium bahkan melihat bakteri yang masuk dalam makanan, namun bakteri memiliki efek yang sangat buruk terhadap kesehatan tubuh kita.

Setelah bakteri yang masuk dalam makanan masuk ke dalam tubuh seseorang, maka bakteri tersebut melepaskan racun. Racun inilah yang menyebabkan kejadian keracunan makanan yang umumnya menyebabkan diare serta muntah.

Dibawah ini adalah berbagai bakteri yang dapat menyebabkan keracunan makanan, seperti:

  • Salmonella
bakteri salmonella

bakteri salmonella

Salmonella sering terdapat pada bahan makanan yang masih dalam keadaan mentah, seperti daging maupun telur, serta masih mampu berkembang biak bila makanan yang telah terkontaminasi tidak dimasak dengan sempurna alias dimasak setengah matang.

Penyakit yang disebabkan oleh bakteri salmonella disebut salmonellosis. Cara penularan yang utama adalah dengan mengkonsumsi makanan atau produk hewani yang sudah terkontaminasi oleh salmonella. Makanan juga bisa terkontaminasi salmonella karena adanya penjamahan atau sentuhan yang telah terinfeksi salmonella, binatang peliharaan, hama serta melalui kontaminasi silang karena kebersihan yang kurang terjaga. 

Gejala keracunan dimulai sekitar 12 sampai 72 jam setelah mengkonsumsi makanan yang telah terkontaminasi oleh bakteri salmonella. Umumnya gejala yang muncul berupa demam yang terjadi selama 2 sampai 5 hari.

Umumnya bakteri salmonella ditularkan melalui konsumsi makanan yang terlah terkontaminasi oleh tinja hewan maupun manusia. Kontaminasi kebanyakan terjadi karena kurangnya kebersihan diri, khususnya tangan sebelum memegang makanan.

  • Escherichia coli

Bakteri Escherichia coli atau biasa disebut e.coli merupakan mikroflora alami yang ada di dalam usus hewan berdarah panas. Kebanyakan strain e.coli tidak berbahaya, namun ada pula yang bersifat pathogen bagi manusia. Strain e.coli yang berbahaya adalah Enterohaemorragic  Escherichia Coli atau EHEC. Strain EHEC sangat berbahaya dan seringkali menyebabkan keracunan makanan pada masyarakat.

Gejala dari keracunan makanan yang terkontaminasi oleh e.coli umumnya muncul lebih lambat daripada keracunan yang diebabkan oleh bakteri lain. 1 sampai 3 hari setelah mengkonsumsi makanan yang terkontaminasi akan menyebabkan kram perut serta diare yang bercampur dengan darah. Bahkan diare yang terjadi sebagian besar berupa darah, sehingga kondisi seperti ini juga dinamakan colitis hemoragik. Diare berdarah bisa berlangsung selama 8 hari lamanya, dan kondisi seperti ini umumnya akan sembuh dengan sendirinya. Terkadang gejala keracunan disertai dengan demam terkadang juga tidak.

Makanan yang sering terkontaminasi oleh bakteri e.coli umumnya daging merah, seperti daging sapi, kambing, domba maupun babi yang masih mentah maupun yang dimasak kurang sempurna. Susu mentah terkadang juga terkontaminasi oleh bakteri e.coli.

  • Campylobacter jejuni

Infeksi yang disebabkan oleh bakteri campylobacter jejuni terjadi karena mengkonsumsi daging ayam yang telah terkontaminasi. Bakteri campylobacter jejuni juga bisa mengkontaminasi sumber air yang tidak terjaga kebersihannya serta susu yang masih mentah.

Gejala keracunan makanan yang disebabkan oleh kontaminasi bakteri campylobacter jejuni  umumnya adalah demam serta diare yang muncul setelah 2 sampai 5 hari setelah mengkonsumsi makanan maupun mengkonsumsi minuman yang telah tercemar.

Diare yang muncul kemungkinan hanya berupa cairan terkadang juga disertai dengan darah. Gejala dari keracunan makanan yang disebabkan oleh bakteri campylobacter jejuni umumnya akan berakhir pada hari ke 7 sampai hari ke 10.

  • Staphylococcus aureus
makanan yang disimpan dalam pendingin

makanan yang disimpan dalam pendingin

Staphylococcus aureus sering disebut dengan nama staph. Ada sekitar 23 spesies Staphilococcus, namun Staphylococcus aureus merupakan spesies staph yang paling sering menyebabkan keracunan makanan. Racun yang dihasilkan oleh staphylococcus aureus bersifat tahan panas sehingga tidak mudah hancur pada suhu masak normal. Bakteri stap bisa mati, tapi racunnya akan tetap tertinggal dalam makanan yang telah terkontaminasi. Racun staph baru bisa hancur secara bertahap setelah makanan dimasak selama paling tidak 30 menit.

Bakteri staphylococcus aureus sering terdapat pada produk makanan yang kaya akan protein, seperti susu, daging, ikan, daging ungas maupun telur; produk pangan matang yang dikonsumsi dalam keadaan dingin, seperti pudding, sandwich, salad; produk pangan yang terpapar suhu hangat selama beberapa jam; pangan yang disimpan dalam lemari pendingin yang terlalu penuh atau suhunya kurang rendah; serta pangan yang tidak habis dikonumsi dan disimpan dalam suhu ruangan.

Staphylococcus aureus menyebar dari pengolahan makanan yang telah terinfeksi bakteri staph pada bagian kulitnya. Selain itu, peralatan memasak juga bisa menjadi sumber kontaminasi. Hampir setiap jenis makanan dapat terkontaminasi oleh bakteri staph, khususnya makanan seperti salad, produk susu, kue krim serta makanan yang disimpan dalam suhu ruangan.

Gejala keracunan makanan umumnya muncul dengan sangat cepat, yaitu 2 sampai 8 jam setelah mengkonsumsi makanan yang tekontaminasi bakteri staphylococcus aureus. Gejala biasanya akan berlangsung selama 3 sampai 6 jam saja serta jarang terjadi sampai 2 hari. Kebanyakan kasus keracunan akibat staph bersifat ringan serta dapat sembuh sendiri meskipun tanpa diobati.

  • Bacillus cereus

Keracunan akibat bakteri bacillus cereus umumnya timbul bila seseorang menelan bakteri atau spora dari bakteri bacillus cereus. Kemudian bakteri tersebut berkembang biak serta menghasilkan racun di dalam usus. Bisa juga keracunan terjadis etelah seseorang mengkonsumsi makanan yang telah mengandung racun dari bakteri bacillus cereus.

Ada dua jenis racun yang dihasilkan oleh bakteri bacillus cereus, yaitu racun yang hanya menyebabkan diare serta racun yang hanya menyebabkan muntah atau emesis.

Bakteri bacillus cereus yang menyebabkan muntah mampu mencemari jenis makanan, seperti kentang tumbuh, beras, makanan yang mengandung pati serta tunas sayuran. Sedangkan bakteri bacillus cereus yang mampu menyebabkan diare banyak terdapat pada jenis makanan seperti daging maupun sayuran.

  • Shigella

Gejala dari keracunan makanan akibat dari kontaminasi bakteri shigella biasanya muncul sekitar 1 sampai 4 hari setelah mengkonsumsi makanan yang telah tercemar. Gejala yang ditimbulkan oleh bakteri shigella agak berbeda daripada gejala yang muncul akibat dari bakteri lain.

Umumnya gejala yang muncul adalah adanya gangguan pada system neurologis, seperti kejang, lesu, sakit kepala serta rasa kaku pada leher. Keracunan umumnya berlangsung selama 2 sampai 3 hari lamanya.

  • Clostridium botulinum
makanan kalengan

makanan kalengan

Clostridium botulinum merupakan penyebab utama dari botulisme, yang merupakan bakteri penyebab keracunan makanan yang mematikan. Bakteri clostridium botulinum mampu membentuk spora tahan panas, bersifat anaerob serta tidak tahan terhadap asam tinggi. Racun yang dihasilkan bernama botulinum dan memiliki sifat meracuni saraf yang nantinya dapat menyebabkan paralisis.

Pemanasan pangan dalam suhu 800°C selama 30 menit mampu merusak racun bakteri clostridium botulinum. Namun sporanya bersifat resisten terhadap suhu pemanasan normal serta mampu bertahan hidup dalam proses pengeringan maupun pembekuan.

Tidak ada penanganan khusus untuk keracunan bakteri  clostridium batulinum, kecuali menggantikan cairan tubuh yang hilang sesegera mungkin. Kebanyakan keracunan terjadi akibat dari cara pengawetan pangan yang keliru, khususnya produk pangan rumahan atau industry rumah tangga, seperti pada proses pengalengan, fermentasi, pengawetan dengan garam, pengasapan maupun pengawetan dengan asam dan minyak.

Gejala botulisme pada orang dewasa umumnya muncul sekitar 18 sampai 36 jam setelah mengkonsumsi makananan yang telah tercemar bakteri clostridium botulinum.