Diagnosis Epilepsi

Orang yang pertama kalinya berhasil mengidentifikasi gejala epilepsi adalah Hippocrates. Dia menganggap epilepsi sebagai sebuah masalah pada otak yang disebabkan karena roh jahat atau hal-hal mistik lainnya.

Seseorang akan dinyatakan mengidap epilepsi jika individu tersebut mengalami kejang-kejang yang tidak disebabkan karena pengaruh alkohol serta tekanan darah yang sangat rendah.

Alat yang umumnya digunakan untuk mendiagnosis epilepsi, adalah:

  • Magnetic Resonance Imaging atau MRI. Menggunakan magnet yang sangat kuat dalam upaya untuk mendapatkan gambaran bagian dalam tubuh atau otak seseorang, tanpa menggunakan sinar X. MRI umumnya lebih peka dibandingkan dengan CT Scan.
  • Electroencephalography atau EEG. Alat ini untuk memeriksa gelombang otak seseorang. Prinsip kerjanya adalah dengan cara mendeteksi perubahan muatan secara mendadak dari sel neuron yang ditandai dengan adanya interictal spike and wave pada hasil EEG. Namun masih tetap membutuhkan kombinasi data klinis serta data EEG untuk memastikan diagnosis epilepsi.

Metode pengobatan.

Terapi pengidap epilepsi secara umum dibagi menjadi empat jenis, yaitu:

  • Menggunakan obat anti-epileptik.
  • Operasi atau eksisi fokus epileptikus.
  • Membasmi faktor penyebab epilepsi.
  • Meregulasi aktivitas mental serta fisik agar jangan mudah lelah serta mudah stress.

Penggunaan obat antiepilepsi merupakan sebuah metode terapi yang sangat penting dalam menangani pasien pengidap epilepsi.

Sebanyak 70%  kasus kejang-kejang pada epilepsi, dapat terkendali secara hampir menyeluruh dengan metode pengobatan ini. Sedang sekitar 25% sisanya mengalami penurunan tingkat keparahan setelah menggunakan obat ini.

Pada umumnya hanya dengan menggunakan 1/2 jenis obat anti epilepsi dapat mengatasi kejang-kejang yang timbul pada pengidap epilepsi.

Obat antiepilepsi sendiri memiliki banyak macam variasi. Berdasarkan ketersediaannya obat untuk epilepsi dibagi menjadi dua macam, yaitu obat dengan half-lives panjang seperti fenitoin, fenobarbital serta ethosuximide. Obat ini cukup dikonsumsi satu kali dalam sehari.

Sedangkan yang satu lagi obat dengan half-lives yang singkat, yaitu asam valporate serta carbamazepine. Konsumsinya lebih darisatu kali dalam sehari.

Meskipun sama-sama disebut obat antiepileksi namun setiap obat memiliki efektifitas sendiri-sendiri pada kejang-kejang tertentu.

Penggunaannya pun juga harus ekstra hati-hati serta tidak boleh asal dalam menghentikan pengkonsumsiannya. Karena penghentian konsumsi secara mendadak dapat berpengaruh pada peningkatan frekuensi kejang atau status epiliptikus.

Pemakaian obat ini harus dikonsultasikan dulu pada dokter ahli. Berikut ini adalah beberapa nama obat-obatan yang umumnya digunakan untuk penyembuhan epilepsi, yaitu:

Carbatrol, Carbamazepine, Clobazam, Clonazepam, Depakatone, Depakene, Depakatone ER, Diastat, Dilatin, Frisium, Felbatol, Gabapentin, Gabitril, Keppra, Klonopin, Lamictal, Lyrica, Mysoline, Neurotin, Phenytek, Phenobarbital, Phenytoin, Sabril, Tergetol, Tegretol XR, Topamaz, Trileptal, Valproic Acid, Zarontin, Zonisamide, Zenogran.

Selain dengan metode pengobatan, epilepsi juga dapat disembuhkan dengan cara ketogenic diet. Diet ini adalah sebuah metode diet yang tinggi lemak serta rendah karbohidrat. Metode diet ini umumnya untuk proses penyembuhan epilepsi pada anak yang sulit menggunakan obat-obatan.

Penganut diet jenis ini dianjurkan makan mengkonsumsi makanan yang berlemak tinggi seperti daging, dan membatasi asupan makanan yang tinggi karbohidrat yaitu, tepung, nasi, gandum, serta sereal.

1 comment for “Diagnosis Epilepsi

  1. Pingback: Patrick

Comments are closed.