Masih Banyak Konsumen Yang Tidak Membaca Label Kemasan

label dalam kemasan makanan

label dalam kemasan makanan

Masih ada begitu banyak konsumen yang mengabaikan label informasi yang terdapat pada kemasan makanan, terutama label tentang kandungan gizi dari makanan tersebut. Padahal, informasi yang tertera pada label kemasan seperti ini penting sekali artinya untuk memastikan nilai gizi yang diperoleh konsumen sesuai dengan kebutuhannya.

Menurut Tetty Helfery Sihombing dari Direktorat Standardisasi Produk Pangan Badan Pengawas Obat dan Minuman atau BPOM, Saat ini konsumen sebenarnya sudah dapat dikatakan relatif cerdas. Bila tidak ada label yang tertera pada kemasan maka mereka cenderung enggan untuk membelinya.

Sesuai dengan hasil penelitian oleh BPOM, sebanyak 88,9% responden yang terlibat dalam penelitian tersebut telah memperhatikan apa yang tertera pada label kemasan makanan. Bahkan label pada kemasan makanan sekarang ini sangat membantu konsumen sebagai pertimbangan untuk membeli suatu produk.

Sayangnya, perhatian pada konsumen terhadap semua komponen yang tertera di label suatu produk makanan masih kurang mendetil. Kebanyakan, para konsumen lebih memperhatikan pada label halal pada suatu produk makanan, memperhatikan waktu atau tanggal kedaluwarsa, nama produk serta komposisi dari suatu produk makanan kemasan.

Masih ada informasi lain yang juga tertera pada label kemasan suatu produk makanan, salah satunya adalah informasi tentang nilai gizi dari produk makanan tersebut. Informasi ini adalah bagian dari label makanan yang berisi daftar kandungan zat gizi dari produk makanan tersebut yang sudah sesuai dengan format yang baku.

label dalam kemasanInformasi tentang gizi suatu produk makanan yang tertera pada label kemasan berisi nilai kandungan gizinya, seperti karbohidrat total, lemak total, kalori, garam serta gula dari produk makanan tersebut. Padahal, informasi seperti ini merupakan hal yang penting sekali untuk memastikan nilai gizi yang diperoleh para konsumen sesuai dengan yang dibutuhkan.

Sebab, seperti yang kita ketahui bersama, kelebihan konumsi garam, gula serta lemak, ketiganya sama-sama ikut berperan dalam meningkatkan resiko munculnya penyakit yang berbahaya, seperti diabetes, kanker, hipertensi maupun penyakit jantung.

Dengan memperhatikan label pada kemasan suatu produk makanan, maka diharapkan agar masyarakat dapat membatasi konsumsi garam, gula serta lemak sebagai upaya untuk menghindari bahaya penyakit yang berbahaya seperti diatas.

Belakangan ini semakin banyak produk suplemen makanan yang beredar di pasaran. Kebanyakan, suplemen makanan tersebut memiliki kemasan yang bagus serta memiliki banyak klaim kesehatan, sehingga suplemen makanan menjadi dalah satu produk yang banyak dibeli oleh para masyarakat demi menunjang kesehatannya.

Banyak sekali jenis suplemen yang dijual di pasaran saat ini, mulai dari suplemen untuk otak, pembuluh darah, syaraf, persendian, penambah tinggi badan, penambah berat badan, pemutih kulit dan masih banyak lagi.

Selain dituntut memperhatikan kandungan gizi yang terdapat pada label kemasan makanan, masyarakat juga dituntut agar lebih cerdas dalam memilih serta mengkonsumsi suatu produk suplemen. Sebaiknya baca keterangan yang tertera pada label kemasan suatu produk suplemen. Mulai dari fungsinya, efek sampingnya, peringatan atau perhatian, kontraindikasi serta interaksi dari produk suplemen tersebut.

Kandungan dari suplemen makanan yang banyak dijual di pasaran merupakan kombinasi dari berbagai vitamin, mineral, asam amino serta berbagai bahan lain yang memiliki nilai gizi maupun memiliki efek fisiologis.

memperhatikan label kemasan makanan

memperhatikan label kemasan makanan

Contohnya, suplemen makanan yang dikatakan mampu untuk mendongkrak kinerja organ otak umumnya berisi gabungan dari vitamin B seperti vitamin B1, B6 serta B12 yang memang bagus sekali untuk perkembangan serta kinerja organ otak.

Kebanyakan para produsen lebih menonjolkan kandungan dari suplemen yang diproduksi dengan sedemikian rupa sehingga tampak seperti produk nomor satu di mata para konsumen.

Padahal, jika asupan makanan kita seimbang dan tetap, kita tidak perlu lagi mengkonsumsi suplemen makanan. Suplemen makanan baru dibutuhkan pada kondisi di mana asupan suatu nutrisi yang tidak tercukupi oleh makanan kita sehari-hari. Contoh seperti pada proses pemulihan dari sakit, masa kehamilan, masa menyusui serta karena usia yang sudah lanjut.

Dulu, sekitar tahun 2004 Badan Pengawas Obat dan Makanan atau BPOM masih menemukan berbagai macam produk suplemen yang mengandung bahan kimia obat, khususnya untuk mendongkrak stamina tubuh.

Namun produk-produk suplemen yang memilik campuran bahan kimia sudah di tarik izinnya dan sudah tidak diperbolehkan lagi untuk beredar di pasaran. Sekarang BPOM lebih memperhatikan cara produksi dari produk suplemen agar dapat memenuhi kaidah keamanan pangan.

Konsumsi suplemen secara berlebihan serta tidak sesuai dengan anjuran yang tertera pada label kemasan suatu produk suplemen dapat menyebabkan gangguan pada kesehatan kita sendiri nantinya.

1 comment for “Masih Banyak Konsumen Yang Tidak Membaca Label Kemasan

  1. Pingback: Kirk

Comments are closed.