Mengapa Kita Lebih Mudah Mengalami Stress

stres

stres

Belakangan ini sepertinya memang tidak ada orang yang bisa bebas dari stres. Dengan adanya berbagai masalah dalam kehidupan sehari-hari, misalnya situasi keuangan, beban pekerjaan serta adanya konflik dengan pasangan maupun keluarga, dapat membuat kita selalu merasakan ketegangan serta kecemasan yang memicu stres.

Ada begitu banyak alasan yang membuat kita merasa sulit untuk bisa bersikap lebih tenang dalam menghadapi berbagai masalah yang terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari.

Namun, menurut seorang CEO meQuilibrium yang merupakan sistem coaching digital untuk stres, bernama Jan Bruce, sebenarnya ada 3 alasan mengapa manusia modern lebih mudah mengalami stres.

  • Merasa terlalu banyak waktu yang terbuang.

Manusia modern terkadang memiliki pemikiran, mengapa harus keluar kantor serta berpanas-anasan bila kita bisa makan di meja sambil menyelesaikan pekerjaan? Untuk apa berjalan kaki serta menghabiskan waktu lebih lama bila kita bisa naik kendaraan untuk bisa pulang lebih cepat dan bisa bersantai?

Tampaknya ironis memang tapi ini benar-benar ternyata dan memang sering terjadi. Kita sering merasa bisa menghemat waktu namun yang terjadi justru sebaliknya. Ada yang mengatakan bahwa waktu adalah uang. Namun pada kenyataannya waktu tidak selalu uang dan kita tidak bisa menyimpan waktu dalam wadah tertentu seperti toples misalnya. Waktu merupakan sesuatu yang harus dihabiskan ketika kita masih memilikinya. Namun, habiskan waktu dengan bijaksana. Karena belum tentu anda punya kesempatan untuk dapat menikmati waktu tersebut.

  • Terlalu fokus pada masa depan.
stres saat bekerja

stres saat bekerja

Kebanyakan dari kita menghabiskan waktu ntuk berpikir tentang masa depan, entah itu memikirkan hari esok atau mungkin memikirkan apa yang terjadi minggu depan. Secara tidak sadar, kita justru kehilangan banyak momen yang terjadi saat ini. Dengan terlalu fokus pada masa depan, kita tidak bisa menikmati kegembiraan maupun kebahagiaan yang sudah ada saat ini.

Pada saat-saat tertentu insting alami dari manusia akan membuat kita terlatih untuk menghadapi masa depan. Dan hal seperti memang merupakan cara kita untuk hidup. Namun, manusia yang lebih fleksibel, lebih tahan dalam segala kondisi serta orang yang lebih bahagia merupakan orang-orang yang benar-benar sangat menghargai momen yang terjadi di saat ini.

  • Kurang membuka diri

Dengan begitu banyaknya tuntutan atas waktu, perhatian serta segala sumber daya kita, maka seringkali kita merasa takut untuk membuka diri kita untuk menghadapi segala permasalahan yang akan muncul. Terkadang manusia perlu untuk sedikit membuka diri untuk menghadapi hal-hal yang berbeda serta untuk melepaskan ketegangan.

Jadi, kita dapat menjalani kehidupan sehari maupun akhir pekan dengan melakukan sesuatu yang lain dari yang biasa kita lakukan sehari-hari untuk mendapatkan kebahagiaan. Carilah kesempatan untuk menghubungi teman maupun membaca buku yang seru yang bisa membuat kita dapat melupakan permasalahan sehari-hari. Atau berbaring di rerumputan sambil memandang langit tanpa berpikir tentang apapun.

Rasa takjub, gembira serta rasa bahagia, bukanlah sesuatu yang bisa kita rencanakan. Kita perlu untuk meluangkan waktu untuk merasakan rasa-rasa seperti itu.

Selain itu, berbagi rasa dengan orang lain, baik tentang hal-hal yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan, bisa menjadi sebuah kunci untuk menuju bahagia.

Sebuah studi terbaru dari University of Southern California’s Marchall School of Business di Los Angeles, Amerika Serikat, mengungkapkan bahwa, stres bukanlah sesuatu yang harus disimpan sendirian, membagi stres dengan orang lain akan dapat mengurangi ketegangan serta kecemasan.

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Social Psychological and Personality Science telah menunjukkan bahwa membagi stres dengan seseorang yang memiliki kemiripan reaksi emosional mampu untuk menurunkan kadar stres. Bahkan kadar stresnya akan turun lebih banyak daripada berbagi masalah dengan orang lain yang tidak pernah merasakan pengalaman yang sama seperti yang anda alami.

berdiskusi

berdiskusi

Dalam studi tersebut, para peneliti mengukur kondisi emosi, kadar kortisol yang merupakan hormon pemicu stres serta rasa terancam pada 52 orang relawan wanita. Caranya dengan mengharuskan para relawan untuk menyiapkan serta menceritakan masalah yang dialaminya dan merekam semuanya.

Para relawn dibagi secara berpasangan untuk mendiskusikan perasaan mereka terhadap situasi yang menyebabkan mereka mengalami stres. Khususnya stres yang direkam tadi.

Para peneliti menemukan, ketika pasangan memiliki kondisi emosi yang sama, hal ini akan meembatu setiap individu untuk melawan tingginya kadar stres. Para peneliti mengatakan, dengan adanya temuan seperti ini maka akan sangat bermanfaat bagi mereka yang stres karena pekerjaan.

Asisten profesor manajemen dan organisasi di USC Marshall School of Business yang juga ketua dari studi tersebut yang bernama Sarah Townsend, mengatakan, ketika anda diharuskan untuk mengerjakan presentasi pekerjaan yang penting sekali untuk sebuah proyek besar, anda pastinya akan merasa terancam serta mengalami stres yang tinggi.

Namun dengan berbagi rasa yang menyebabkan stres tersebut pada rekan kerja yang juga mengalami kondisi emosional yang sama, maka rasa takut yang anda rasakan akan berkurang sehingga membuat anda lebih tenang dalam menyelesaikan tugas anda.