Orang Yang Rentan Mengalami Obesitas

obesitas

obesitas

Obesitas atau kegemukan, merupakan suatu kondisi medis berupa kelebihan lemak tubuh yang terkumpul sedemikian rupa sehingga menimbulkan dampak yang merugikan bagi kesehatan tubuh, yang nantinya dapat menurunkan harapan hidup maupun meningkatkan masalah kesehatan seseorang.

Seseorang dianggap mengalami obesitas bila indek massa tubuh atau IMT, yaitu ukuran yang diperoleh dari hasil pembagian berat badan dalam kilogram dengan kuadrat tinggi badan dalam meter, lebih dari 30 kg/m2.

Belakangan ini, obesitas menjadi sesuatu yang sering sekali kita dengar. Jumlah orang yang mengalami obesitas semakin bertambah membuat kita perlu untuk meningkatkan keawaspadaan terkait dengan kondisi seperti ini.

Seperti yang kita ketahui sebelumnya, obesitas diketahui dapat memicu munculnya berbagai penyakit degenerative, seperti penyakit jantung, diabetes tipe 2, stroke dan lain sebagainya.

Meskipun obesitas dapat terjadi pada siapa saja, namun ada tipe orang tertentu yang sangat rentan mengalami obesitas. Orang-orang yang rentan mengalami obesitas, meliputi:

  • Orang yang memiliki orang tua obesitas
anak obesitas

anak obesitas

Terjadinya obesitas dapat dipengaruhi oleh factor genetika, karena akan sangat menentukan bagaimana tubuh menyimpan serta mendistribusikan lemak. Menurut berbagai situs kesehatan factor yang dapat mempengaruhi lemak, seperti laju metabolism serta efisiensi dalam proses pembakaran kalori ketika berolahraga juga dipengaruhi oleh factor genetika.

Selain itu, kebiasaan makan yang terbentuk dalam sebuah keluarga juga dapat mempengaruhi seseorang mengalami obesitas atau tidak. Dengan mengikuti pola makan yang diterapkan oleh orangtua yang mengalami obesitas, maka seorang anak juga akan cenderung mudah mengalami obesitas dikemudian hari.

  • Orang yang berhenti merokok

Alasan para perokok untuk tidak berhenti merokok biasanya adalah takut mengalami kegemukan. Dan memang, penelitian juga telah membuktikan bahwa berhenti merokok dapat membuat seseorang mengalami kegemukan.

Namun, bila kita membandingkan bahaya kesehatan antara kebiasaan merokok dengan obesitas, justru kebiasaan merokok memiliki bahaya yang lebih besar. Padahal, kegemukan atau obesitas yang terjadi setelah seseorang berhenti merokok dapat diturunkan dengan berbagai macam cara, termasuk mengatur pola makan serta berolahraga.

  • Wanita setelah melahirkan

Wanita lebih mudah mengalami obesitas setelah melahirkan maupun memiliki anak. Penambahan berat badan ketika masa kehamilan pasti terjadi, namun upaya untuk menurunkan berat badan setelah melahirkan cukup sulit untuk dilakukan oleh kebanyakan wanita.

Hal seperti ini bukan sepenuhnya salah mereka, sebab kehamilan yang memasuki trimester terakhir, menyebabkan wanita memproduksi sel lemak lebih banyak di dalam tubuhnya. Meskipun diet serta olahraga dapat menyusutkan kembali sel lemak yang ada dalam tubuhnya, namun pada bagian tubuh tertentu sel lemak sulit sekali untuk dihilangkan.

  • Orang yang suka begadang
obesitas

obesitas

Orang yang suka begadang dapat memperbesar resiko untuk mengalami obesitas. Sebab, kebiasaan begadang dapat mengganggu kadar hormone dalam tubuhnya, sehingga sulit bagi mereka untuk mengendalikan nafsu makannya ketika begadang.

Beberapa studi juga telah menemukan bahwa, orang yang tidurnya kurang dari delapan jam setiap hari memiliki kenaikan jumlah sel lemak dalam tubuhnya lebih banyak bila dibandingkan dengan orang-orang yang tidurnya cukup.

Banyak ahli kesehatan yang menyatakan bahwa, ada perubahan pada organ otak ketika tubuh kita mulai mengantuk, hal seperti ini menggambarkan berapa banyak energy yang dibutuhkan oleh tubuh kita. Untuk mencukupi kebutuhan energy tersebut, akhirnya tubuh kita beradaptasi dengan cara meningkatkan nafsu makan. Hal inilah yang memicu terjadinya obesitas pada orang-orang yang suka begadang.

  • Pola makan yang salah
konsumsi makanan cepat saji

konsumsi makanan cepat saji

Seiring dengan meningkatnya ketergantungan masyarakat pada makanan yang kaya energy, dalam porsi besar serta cepat saji, maka hubungan antara konsumsi makanan cepat saji dengan obesitas menjadi semakin meningkat. Hal seperti ini banyak terjadi di Amerika. Di Amerika konsumsi makanan cepat saji meningkat 3 kali lipat serta asupan energy dari makanan meningkat 4 kali lipat.

Kebijakan pertanian dan teknik di Amerika serta Eropa telah menyebabkan turunnya harga makanan. Di Amerika sendiri, subsidi untuk kedelai, jagung serta beras melalui Undang-undang pertanian AS telah membuat sumber utama makanan olahan menjadi lebih murah dibandingkan dengan buah dan sayuran yang lebih menyehatkan untuk tubuh. Sedangkan di Indonesia, penyebab obesitas adalah kebiasaan ngemil.

  • Penyakit serta obat tertentu

Penyakit fisik, penyakit mental tertentu serta obat-obatan yang digunakan dalam metode pengobatan tertentu juga dapat meningkatkan resiko terjadinya obesitas.

Penyakit medis yang dapat meningkatkan resiko obesitas meliputi beberapa sindrom genetic yang langka serta beberapa kelainan bawaan, seperti hipotiroidisme, sindrom cushing, kekurangan hormone pertumbuhan serta gangguan makan.  Gangguan makan bisa berupa ngemil berlebihan serta sindrom makan di malam hari.

Namun, obesitas tidak dianggap sebagai kelainan mental, sehingga tidak termasuk dalam daftar penyakit psikiatri. Resiko kelebihan berat badan serta obesitas lebih tinggi pada seseorang yang mengalami kelainan psikiatrik jika dibandingkan dengan seseorang yang tidka mengalami kelainan psikiatrik.

Obat-obatan tertentu dapat menyebabkan meningkatnya berat badan maupun perubahan komposisi tubuh, yang mencakup perubahan insulin, sulfonylurea, thiazolidinedione, antipsikotik atipikal, steroid, antidepresan, antikonvulsan tertentu (sepertivalproat serta fenitoin), pizotifen serta beberapa kontrasepsi hormonal.