Pengobatan Penyakit Epilepsi

 

gambar otak manusia

gambar otak manusia

Epilepsi atau yang umumnya disebut ayan merupakan sebuah penyakit saraf menahun yang dapat menimbulkan serangan secara mendadak serta berulang yang tak beralasan. Diambil dari bahasa Yunani yaitu Epilepsia yang artinya adalah serangan.

Organ otak manusia terdiri dari berjuta-juta neuron atau sel-sel saraf yang memiliki tugas untuk mengkoordinasi semua aktivitas organ serta aktivitas mental seperti perasaan, berpikir, penglihatan serta bergerak.

Pada penderita epilepsi, terkadang sinyal tersebut tidak beraktivitas sebagaimana mestinya. Terjadinya hal ini dikarenakan akibat dari berbagai macam unsur, seperti: cedera atau trauma pada bagian kepala, kanker otak, stroke, tumor otak, atau konsumsi alkohol yang berlebihan.

Terkadang faktor genetik juga bisa menjadi penyebab, namun epilepsi bukan termasuk penyakit keturunan. Sehingga sebab yang pasti terjadinya epilepsi masih belum dapat diketahui.

Apilepsi memiliki jaringan yang abnormal atau istilahnya lesi yang jelas yang disebut lesi epileptogenik yang merupakan penyebab utama munculnya keadaan Epileptic Seizure.

Timbulnya lesi epileptogenik dalam berbagai macam bentuk seperti tanpa adanya bekas luka pada sel neuron, atau kehilangan jaringan yang lain seperti malformasi vaskular serta tumor otak.

Secara sederhana epilepsi merupakan perwujudan dari pelepasan secara berlebihan serta bersifat abnormal dari sel neuron pada organ otak.

Seiring dengan semakin majunya teknologi diagnosis, akhirnya kita bisa tahu dengan jelas apa yang menyebabkan epilepsi itu hingga terjadi.

Pada pasien grand mal dan epilepsi absence, menunjukkan adanya kelainan pada hasil CT-scan yang ditemukan pada sekitar 10% pasien epilepsi.

Sedangkan pada kasus epilepsi kompleks parsial terdapat sekitar 63% hasil CT-scan yang ternyata menunjukkan adanya perubahan. Umumnya perubahan tersebut karena adanya atrofi, kalsifikasi serta malformasi.

Epilepsi terbagi menjadi dua klasifikasi, yaitu:

Kejang general atau kejang umum
Kejang-kejang yang bersifat simetris pada kedua sisi dan tanpa adanya kejang lokal. Kejang umum sendiri terbagi enam kategori, yaitu: tonik-clonik atau grand mal, petit mal atau absence, juvenile myoclonic epilepsy, atonic astatic akinetic seizure, serta lennox-gastaut syndrome.

Kejang parsial atau kejang sebagian.
Kejang ini diawali dengan adanya gejala kejang lokal.

Simpel

Kejang parsial yang timbul namun pengidap tidak kehilangan atau mengalami perubahan pada kesadarannya. Kejang ini terbagi menjadi empat tergantung pada saraf yang terpengaruh, yaitu motoris lesi berada dalam lobus frontalis, somatosensor pada panca indera, otonom, faktor psikologis.

Kompleks

Bila pasien kejang serta mengalami kehilangan kesadaran. Diawali dengan kejang-kejang secara parsial yang perlahan-lahan berubah menjadi progresif dan akhirnya penderita mengalami kehilangan kesadaran.

Electroencephalography

Electroencephalography

Faktor keturunan pada penyakit epilepsi memiliki angka yang sedikit sekali. Sehingga bisa dikatakan bahwa epilepsi tidak akan menyebabkan keturunannya akan memiliki penyakit yang sama. Meskipun mungkin itu ada, tapi sangat sedikit sekali.

Orang yang pertama kalinya berhasil mengidentifikasi gejala epilepsi adalah Hippocrates. Dia menganggap epilepsi sebagai sebuah masalah pada otak yang disebabkan karena roh jahat atau hal-hal mistik lainnya.

Seseorang akan dinyatakan mengidap epilepsi jika individu tersebut mengalami kejang-kejang yang tidak disebabkan karena pengaruh alkohol serta tekanan darah yang sangat rendah.

Alat yang umumnya digunakan untuk mendiagnosis epilepsi, adalah:

  • Magnetic Resonance Imaging atau MRI. Menggunakan magnet yang sangat kuat dalam upaya untuk mendapatkan gambaran bagian dalam tubuh atau otak seseorang, tanpa menggunakan sinar X. MRI umumnya lebih peka dibandingkan dengan CT Scan.
  • Electroencephalography atau EEG. Alat ini untuk memeriksa gelombang otak seseorang. Prinsip kerjanya adalah dengan cara mendeteksi perubahan muatan secara mendadak dari sel neuron yang ditandai dengan adanya interictal spike and wave pada hasil EEG. Namun masih tetap membutuhkan kombinasi data klinis serta data EEG untuk memastikan diagnosis epilepsi.

Metode pengobatan.

Terapi pengidap epilepsi secara umum dibagi menjadi empat jenis, yaitu:

Menggunakan obat anti-epileptik.
Operasi atau eksisi fokus epileptikus.
Membasmi faktor penyebab epilepsi.
Meregulasi aktivitas mental serta fisik agar jangan mudah lelah serta mudah stress.
Penggunaan obat antiepilepsi merupakan sebuah metode terapi yang sangat penting dalam menangani pasien pengidap epilepsi.

upaya yang dilakukan saat  penderita epilepsi mengalami kejang

upaya yang dilakukan saat penderita epilepsi mengalami kejang

Sebanyak 70% kasus kejang-kejang pada epilepsi, dapat terkendali secara hampir menyeluruh dengan metode pengobatan ini. Sedang sekitar 25% sisanya mengalami penurunan tingkat keparahan setelah menggunakan obat ini.

Pada umumnya hanya dengan menggunakan 1/2 jenis obat anti epilepsi dapat mengatasi kejang-kejang yang timbul pada pengidap epilepsi.

Obat antiepilepsi sendiri memiliki banyak macam variasi. Berdasarkan ketersediaannya obat untuk epilepsi dibagi menjadi dua macam, yaitu obat dengan half-lives panjang seperti fenitoin, fenobarbital serta ethosuximide. Obat ini cukup dikonsumsi satu kali dalam sehari.

Sedangkan yang satu lagi obat dengan half-lives yang singkat, yaitu asam valporate serta carbamazepine. Konsumsinya lebih dari satu kali dalam sehari.

Meskipun sama-sama disebut obat antiepilepsi namun setiap obat memiliki efektifitas sendiri-sendiri pada kejang-kejang tertentu.

Penggunaannya pun juga harus ekstra hati-hati serta tidak boleh asal dalam menghentikan pengkonsumsiannya. Karena penghentian konsumsi secara mendadak dapat berpengaruh pada peningkatan frekuensi kejang atau status epiliptikus.

Pemakaian obat ini harus dikonsultasikan dulu pada dokter ahli. Berikut ini adalah beberapa nama obat-obatan yang umumnya digunakan untuk penyembuhan epilepsi, yaitu:

Carbatrol, Carbamazepine, Clobazam, Clonazepam, Depakatone, Depakene, Depakatone ER, Diastat, Dilatin, Frisium, Felbatol, Gabapentin, Gabitril, Keppra, Klonopin, Lamictal, Lyrica, Mysoline, Neurotin, Phenytek, Phenobarbital, Phenytoin, Sabril, Tergetol, Tegretol XR, Topamaz, Trileptal, Valproic Acid, Zarontin, Zonisamide, Zenogran.

Selain dengan metode pengobatan, epilepsi juga dapat disembuhkan dengan cara ketogenic diet. Diet ini adalah sebuah metode diet yang tinggi lemak serta rendah karbohidrat. Metode diet ini umumnya untuk proses penyembuhan epilepsi pada anak yang sulit menggunakan obat-obatan.

Penganut diet jenis ini dianjurkan makan mengkonsumsi makanan yang berlemak tinggi seperti daging, dan membatasi asupan makanan yang tinggi karbohidrat yaitu, tepung, nasi, gandum, serta sereal.

Selain itu anda juga bisa memberikan suplemen alami yaitu Nectura yang mengandung banyak bahan alami yang baik untuk kesehatan.