Waspadai Meningkatnya Hormon Stres

Waspadai Meningkatnya Hormon Stres

Selain untuk memenuhi kebutuhan gizi tubuh, asupan makanan yang mengandung nutrisi juga bisa membantu sistem syaraf pada bagian otak menjadi tenang.

Kurangnya asupan makanan yang bernutrisi bisa memberikan dampak yang kurang baik bagi tubuh termasuk dengan sistem saraf yang membuat tubuh mengeluarkan kortisol atau hormon stres lebih banyak dari biasanya.

Otak manusia menghasilkan endocannabinoids, yaitu berupa neurotransmitter yang berfungsi untuk mengendalikan nafsu makan dengan cara mengirim sinyal saraf ke otak.

Menurut hasil sebuah penelitian, para ilmuwan menemukan bukti bahwa pada saat seseorang sedang lapar, otak akan memberikan respon sebagai stres lalu mengirim sinyal tersebut untuk kembali ke otak.

Dengan terkirimnya kembali sinyal ini maka kemampuan endocannabinoids dalam mengendalikan asupan makanan akan menjadi berkurang serta akan membuat orang tersebut semakin merasa terdorong pada saat makan.

Quentin Pittman PhD serta Jaideep Bains PhD yang merupakan peneliti memberi perhatian yang khusus pada hipotalamus yang merupakan sel saraf pada bagian otak.

Hipotalamus mempunyai peranan yang penting dalam mengendalikan metabolisme tubuh, mengatur nafsu makan, metabolisme tubuh dan bertanggung jawab atas respons otak terhadap stres.

Seperti dikutip melalui ScienceDaily pada hari Senin 15 Agustus 2011, Bains Jaideep PhD mengatakan, “Hasil penemuan ini bisa menjelaskan komunikasi apa yang akan terjadi pada otak saat harus menghadapi situasi tidak ada makanan. Yang menariknya adalah perubahan ini belum tentu didorong oleh tubuh yang kekurangan nutrisi, akan tetapi karena stres yang disebabkan karena tidak tersedianya makanan.”

Jika hal yang sama terjadi pada otak manusia maka kemungkinan penemuan ini akan mempunyai beberapa implikasi bagi kesehatan manusia.

Quentin Pittman PhD menjelaskan, “Misalnya, jika anda memilih untuk tidak makan maka otak akan memberikan dorongan yang mengarah pada meningkatnya nafsu makan.”

Bains juga menambahkan, “Ada fakta lain yang menunjukkan bahwa seseorang yang merasa lapar akan menyebabkan aktifnya respons stres yang kemungkinan bisa menjelaskan adanya keterkaitan antara obesitas dan stres.”

Tentunya hasil penelitian ini bisa dijadikan sebagai dasar penelitian selanjutnya untuk menyelidiki penggunaan terapi yang bisa memberikan pengaruh sistem saraf dalam memanipulasi asupan makanan.

Selain itu hasil penelitian ini juga bisa dijadikan landasan penelitian selanjutnya untuk melihat apakah stres bisa disebabkan oleh sistem saraf yang dipengaruhi oleh rasa lapar.

Pittman mengungkapkan, “Satu hal yang bisa kita katakan dengan pasti adalah bahwa ternyata penelitian ini menggaris bawahi betapa pentingnya ketersediaan makanan untuk sistem saraf kita. Tidak adanya makanan jelas membawa perubahan dramatis terhadap cara kerja sistem saraf,”.

Penelitian ini sendiri dilakukan di laboratorium kedua peneliti tersebut yang menggunakan hewan percobaan berupa tikus yang dilakukan oleh Karen Crosby dan Wataru Inoue, Ph.D.

Penelitian ini didukung oleh CIHR (Canadian Institutes of Health Research) dan AI-HS (Alberta Innovates- Health Solutions).

Penemuan baru yang dipublikasikan secara online melalui jurnal Neuron ini juga memberikan wawasan yang penting mengenai alasan kenapa stres dianggap sebagai salah satu pemicu obesitas.