Ayah Gemuk Bisa Turunkan Penyakit Pada Anak

ayah yang gemuk

Dulu, ada keyakinan bahwa gemuk itu berarti sehat.

Namun itu hanya sebuah kepercayaan jaman dulu. Saat ini banyak sekali kita jumpai orang yang gemuk. Jaman sekarang ini, gemuk juga belum tentu sehat.

Yang menjadi masalah adalah apakah gemuk itu akan membawa pengaruh pada keturunannya nanti. Jika benar, kita perlu memeriksa dahulu keturunan yang lebih dominan, dari ayah atau dari ibunya.

Dan apakah benar jika dari ayah gemuk bisa turunkan penyakit pada anak serta akan memberikan efek yang negatif pada kesehatan si anak, seperti penyakit kanker maupun penyakit-penyakit degeneratif lainnya.

Sebelum memiliki keinginan untuk hamil, seorang calon ibu sebaiknya mempersiapkan fisiknya. Perkembangan fisik seorang ibu akan sangat berpengaruh pada kondisi bayi yang dikandungnya.

Namun tidak hanya sang ibu saja yang perlu memperhatikan kondisi fisiknya, namun sang ayah juga harus memperhatikan kondisi fisknya juga. Karena kondisi sang ayah juga ikut berpengaruh pada anaknya.

Dalam sebuah penelitian telah mengungkapkan bahwa asupan makanan serta beran badan sang ayah juga ikut berperan penting dalam kesehatan keturunannya.

Berat badan yang berlebih pada sang ayah dapat meningkatkan resiko si anak akan terserang penyakit kanker di kemudian hari. Apa yang menyebabkan hal tersebut bisa terjadi? Pernyebabnya adalah ada pada DNA sang ayah yang akan menurun pada si anak.

Hasil penelitian yang diterbitkan oleh Britis Medical Journal ini menganalisa sel-sel janin dari darah pada tali pusar bayi. Dan hasilnya menunjukkan bahwa bayi yang lahir dari seorang ayah yang memiliki obesitas mengalami rendahnya jumlah metilasi DNA Insulin-like-GrowthFactor II atau IGF-2 di dalam selnya.

ayah dan anak obesitas

IGF-2 ini merupakan hormon pertumbuhan yang sangat penting selama pertumbuhan dan perkembangan janin.

Fungsi dari IGF-2 sendiri adalah, untuk mengikat reseptor IFG-1. Jika mengalami kekurangan IGF-2, maka si anak tidak dapat mengikat reseptor IGF-1 secara menyeluruh di dalam tubuhnya.

Dengan adanya pertumbuhan yang bersifat abnormal pada gen ini, telah diketahui sangat berhubungan dengan meningkatnya resiko penyakit kanker. DNA sendiri berisi tentang segala informasi bersifat genetik yang diwariskan oleh orang tua kepada si anak.

Setelah membandingan berat badan dari kedua orang tua dengan data perubahan gen pada si anak yang baru lahir, maka para peneliti menemukan bahwa adanya penurunan metilasi IGF-2 pada bayi yang baru lahir sangat berhubungan dengan ayah yang gemuk, namun tidak dengan ibu yang gemuk.

Disaat proses perkembangan sperma atau spermatogenesis, beberapa bagian pada DNA kemungkin akan mengalami kerentanan terhadap adanya kerusakan di sekitarnya. Dan efek ini akan diteruskan pada generasi yang berikutnya.

Seorang peneliti menjelaskan, ada kemungkinan adanya malnutrisi atau kurangnya nutrisi dalam hormon pada seorang ayah yang mengalami obesitas lah yang menjadi biang keladi dari metilasi DNA pada sperma. Namun penelitian lebih lanjut masih sangat diperlukan untuk mendalami kesimpulan tersebut.

Perubahan genetik umumnya terjadi pada saat pembentukan sperma dengan sel telur. Inilah yang menjadi penyebab mengapa faktor-faktor seperti gizi, gaya hidup, maupun lingkungan kedua orang tua memiliki dampak langsung pada perkembangan kondisi kesehatan si anak nantinya.

Telah banyak kasus orang tua yang gemuk memiliki anak yang ternyata tidak kalah gemuk dengan kedua orang tuanya.

anak dan ayah yang obesitas

Namun, bila dalam suatu keluarga hanya sang ibu yang mengalami kelebihan berat badan, maka dampaknya tidak sama.

Para peneliti mengumpulkan data penelitian terhadap 3000 keluarga di Australia. para peneliti tersebut memeriksa berat badan anak-anak saat berumur 4 hingga 5 tahun lalu memeriksa berat badan anak-anak itu untuk kedua kalinya saat si anak berumur 8 hingga 9 tahun.

Penelitian ini telah membuat para peneliti berkesimpulan bahwa anak yang memiliki ayah yang gemuk mengalami 4 kali kemungkinan mengikuti jejak sang ayah pada saat berumur 8 hingga 9 tahun daripada anak-anak yang ayhnya memiliki berat badan yang normal.

Sang peneliti yang bernama Dr. Freeman, masih belum dapat mengetahui secara pasti penyebab ayah yang memiliki berat badan berlebih berpengaruh besar pada pertumbuhan anaknya.

Salah satu teori yang paling masuk akal adalah makanan serta kebiasaan seorang ayah yang dapat mempengaruhi pola makan serta aktivitas anaknya.

Para peneliti berpikir bahwa hal ini adalah hal yang paling memungkinkan sebab, ayah umumnya merupakan teladan bagi anak-anaknya. Sedangnya ibu, biasanya lebih cenderung memiliki banyak pengetahuan tentang berat badan, olahraga serta makanan.

Dr. Freeman menyebutkan bahwa ada sekitar 25% dari anak-anak di Australia mengalami obesitas atau kelebihan berat badan.

Menurutnya, membantu sang ayah yang mengalami obesitas untuk menurunkan berat badannya dapat mengurangi jumlah obesitas pada anak-anak.