Cara Menghindari Penggunaan Pemanis Buatan

pemanis buatan kemasan

pemanis buatan kemasan

Berbagai pemanis buatan seperti sorbitol, aspartam maupun sukralose sering digunakan oleh orang-orang sebagai pengganti gula khususnya bagi orang-orang yang mengalami diabetes. Sebab, pemanis buatan tidak mengandung sukrosa melainkan fruktosa yang dengan jumlah sedikit saja sudah cukup memberikan rasa manis pada makanan maupun minuman.

Dengan kata lain, penggunaan pemanis buatan lebih aman untuk mencegah terjadinya peningkatan gula darah yang melonjak tinggi. Namun, sebaiknya pemanis buatan tidak sikonsumsi secara berlebihan. Konsumsi pemanis buatan juga perlu untuk dibatasi, tergntung jenis pemanisnya.

Konsumsi pemanis buatan memiliki efek yang sama seperti mengonsumsi gula pasir biasa, yaitu meningkatkan kadar gula darah. Walaupun batasannya lebih tinggi jika dibandingkan dengan gula pasir.

Bila konsumsi gula pasir batas konsumsinya dalam sehari adalah 7 sendok teh per hari, maka batasan konsumsi pemanis buatan lebih banyak lagi. Contohnya untuk penggunaan pemanis buatan dengan kombinasi aspartam dengan asesulfam, batasannya hanya 15 mg per kg bert badan kita.

Bila berat badan seseorang sekitar 50 kg, maka batasan penggunaan pemanis buatan sekitar 750 mg per hari. Batasannya akan berbeda lagi untuk penggunaan pemanis buatan dengan kombinasi antara sorbitol dengan sukralosa.

gambaran ukuran gula biasa dengan pemanis buatan

gambaran ukuran gula biasa dengan pemanis buatan

Selain itu, pemanis buatan berbahan fruktosa tidak dapat memberikan sinyal kenyang pada organ otak. Sehingga dengan mengkonsumsi pemanis buatan berbahan fruktosa akan membuat tubuh kita terus merasa lapar serta meminta makan dalam jumlah yang lebih banyak dari jumlah yang semestinya.

Umumnya, pemanis buatan dikemas dalam satu kemasan dengan berat 10 mg sehingga sangat jauh sekali dari batas konsumsi per hari. Konsumsi pemanis buatan dapat dikatakan berlebihan bila jumlah kemasan yang digunakan mencapai 50 kemasan.

Dengan danya rasa ketakutan untuk gemuk serta mengalami diabetes, maka tidak sedikit orang yang lebih memilih menggunakan pemanis buatan. Padahal pemanis buatan justru dapat meningkatkan nafsu makan serta keinginan untuk makan yang manis-manis.

Itulah mengapa, banyak orang yang menggunakan pemanis buatan sering kali tidak lebih kurus daripada orang yang hanya menggunakan pemanis biasa. Bahkan dari statistik yang ada telah menunjukkan bahwa mereka yang menggunakan pemanis buatan 54% lebih mungkin mengalami obesitas. Sedangkan orang yang menggunakan pemanis biasa 32% lebih memungkinkan untuk mengalami obesitas.

Maka dari itu, sebaiknya mulailah untuk membatasi penggunaan pemanis buatan, dengan cara seperti berikut ini:

  • Meneliti label kemasan

Pemanis buatan tidak hanya berupa kemasan sekali pakai yang mudah terlihat. Pemanis buatan juga seringkali terdapat dalam produk-produk permen, air dengan rasa, minuman dari susu maupun sereal. Untuk menghindarinya anda cukup membaca label kemasaannya denga lebih teliti sebelum membeli. Aspartam, sukralosa, potasium asesulfan, sakarin serta asesulfan kalsium merupakan nama-nama dari bahan pemanis buatan yang biasanya ditulis dalam kemasan.

  • Konsumsi buah

buah-buahanMakan yang manis-manis merupakan naluri dari manusia. Namun para peneliti menyatakan bahwa keinginan seperti ini dapat dipuaskan dengan cara mengkonsumsi buah. Buah merupakan jenis makanan yang paling baik sebagai pengganti pemanis buatan, karena mengandung lebih banyak vitamin, mineral, serat, antioksidan, air serta nutrisi lain yang baik sekali untuk kesehatan tubuh kita.

  • Menggunakan bumbu yang manis

Jenis bumbu seperti jahe serta kayu manis dapat menggantikan pemanis buatan meskipun rasanya tidak benar-benar manis. Jahe maupun kayu manis mampu memperkuat rasa pada makanan atau minuman sehingga dapat mengurangi keinginan untuk menikmati yang manis-manis.

  • Menggunakan gula biasa

Menurut penelitian, penggunaan gula secara berlebihan akan menyebabkan munculnya penyakit yang berbahaya. Namun, sebenarnya gula masih diperbolehkan untuk dikonsumsi selama tetap dalam jumlah yang wajar.