Dampak Kurang Gizi Pada Anak

malnutrisi

malnutrisi

Seorang anak yang mengalami kekurangan maupun kelebihan zat gizi tertentu dapat dikatakan mengalami malnutrisi atau kurang gizi. Kurang gizi sepertinya tidak hanya dialami oleh anak-anak di kalangan ekonomi kurang, yang lebih disebabkan karena mengalami kesulitan dalam mendapatkan bahan pangan dengan gizi yang seimbang untuk memenuhi kebutuhan gizi anak.

Ternyata, sekarang ini tidak sedikit anak yang mengalami kurang gizi di kalangan menengah atas yang lebih disebabkan karena kesalahan pola asuh anak itu sendiri.

Bahkan, menurut Etos Zainal sebagai Kasubdit Bina Gizi Makro, Direktorat Bina Gizi Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, menyatakan bahwa 1 dari 10 anak orang kaya mengalami kurang gizi dan 2 dari 3 anak orang kaya memiliki tubuh pendek.

Rupanya, faktor ekonomi tidak selalu menjadi penyebab dari kurang gizi pada anak. Pola asuh yang salah juga dapat menyebabkan terjadinya kurang gizi pada anak.

Pola asuh anak ikut berperan dalam menentukan status gizi dari seorang anak. Persoalan kekurangan gizi bukan disebabkan oleh ketidakmampuan orangtua untuk menyediakan bahan pangan yang berkualitas maupun memastikan bahan pangan yang sudah memenuhi standar gizi seimbang. Selain itu, cara dari orangtua dalam memberikan makanan pada anaknya juga ikut berperan dalam status gizi anak.

Bagi orang-orang kalangan atas, informasi tentang gizi bukanlah suatu hal yang merepotkan. Orang kaya mudah untuk mendapatkan akses informasi tentang gizi, tidak seperti orang-orang dikalangan menengah kebawah yang membutuhkan dan hanya bisa mengandalkan para kader gizi untuk memastikan agar kebutuhan gizi bagi anaknya tetap terpenuhi.

Hal ini menunjukkan baha pemahaman gizi pada anak saja tidaklah cukup bila orangtua tidak ikut ambil bagian dalam praktek pemberian makanan pada anak. Khususnya pada saat anak masih bayi sampai berumur dua tahun. Karena pada saat-saat seperti itu merupakan masa yang penting dalam menentukan tumbuh kembang si anak agar optimal.

Sebagian ibu-ibu dikalangan menengah ke atas pastinya telah memahami pentingnya pemberian ASI, namun belum tentu ibu-ibu tersebut benar-benar memberikan ASI eksklusif pada anak-anaknya. Mereka juga paham arti pentingnya makanan pendamping ASI mulai dari si anak berumur 6 bulan dengan nutrisi yang seimbang, namun belum tentu mereka langung memberikannya pada anak-anak mereka.

pemberian ASI

pemberian ASI

Padahal, masalah kurang gizi pada anak masih bisa dicegah dengan cara yang mudah, yaitu memastikan kecukupan nutrisi mulai dari anak baru dilahirkan sampai anak mencapai umur dua tahun.

Pada masa seperti ini, sering disebut juga sebagai periode emas , otak anak mulai berkembang dengan pesat. Agar otak anak dapat berkembang dengan baik, maka anak-anak memerlukan gizi yang tepat serta seimbang. Periode seperti ini tidak bisa digantikan. Bila kebutuhan gizi anak sudah terpenuhi, maka dengan sendirinya potensi si anak juga akan semakin optimal.

Maka dari itu, selama masa kehamilan, seorang ibu berkewajiban untuk menjaga kualitas makanan yang dikonsumsinya. Asupan penting seperti protein, baik hewani maupun nabati juga perlu untuk diperhatikan. Seandainya tidak dapat mengkonsumsi protein hewani seperti daging, setidaknya ibu hamil masih bisa mengkonsumsi ikan. Selain itu, ibu hamil juga bia mendapatkan protein nabati yang terkandung dalam makanan seperti kacang-kacangan, tempe serta tahu. Selain protein, ibu hamil juga perlu untuk memenuhi kebutuhan zat besi.

Setelah menjalani proses persalinan, sebaiknya lakukanlah IMD atau Inisiasi Menyusui Dini untuk mencukupi gizi pada bayi anda. Lakukan pemberian ASI eksklusif sampai anak anda berumur dua tahun akan angat menentukan gizi anak anda nantinya.

Ketika si anak mencapai umur enam bulan, anak memerlukan gizi tambahan yang bisa didapatkan dari pemberian Makanan Pendamping ASI atau MPASI. Masalahnya, MPASI juga bisa saja rendah nutrisi karena adanya ketidak seimbangan gizi, kurang dalam segi jumlah serta tekstur dari makanan yang kurang tepat. Selain itu faktor kebersihan dalam proses pembuatan makanan pendamping ASI juga ikut berpengaruh pada gizi si anak.

Pemberian makanan pendamping ASI bisa saja kualitasnya rendah karena sumbernya yang tidak seimbang, yaitu tidak banyak sumber heani, serta rendah kandungan vitamin dan mineralnya. Padahal, kandungan vitamin dan mineral dalam makanan pendamping ASI akan memudahkan pembelahan sel. Yang terjadi jutru makanan pendamping ASI yang banyak kandungan karbohidrat namun rendah protein.

Pemberian makanan pendamping ASI yang jumlahnya kurang tepat, serta memiliki tekstur terlalu cair akan membuat anak merasa cepat kenyang namun gizinya tidak terpenuhi. Inilah yang mempengaruhi kualitas dari makanan pendamping ASI.

Kurangnya zat gizi pada masa kehamilan serta kurangnya zat gizi pada makanan pendamping ASI sangat dipengaruhi oleh mitos serta kebiasaan. Ada jenis makanan tertentu yang tidak boleh diberikan atau tidak boleh dikonsumsi menurut mitos yang beredar di masyarakat.

Contohnya, menurut mitos yang beredar dikalangan masyarakat, ibu hamil kebanyakan dilarang untuk mengkonsumsi ikan. Nantinya dikhawatirkan anaknya bersisik seperti ikan dan masih banyak mitos lain yang menyesatkan. Padahal, ikan merupakan jenis makanan yang baik karena kaya akan omega 3.

Ada banyak sekali mitos-mitos yang beredar di mayarakat yang kebanyakan menyesatkan dan keliru sehingga nantinya dapat menyebabkan resiko kurang gizi pada si anak. Agar pertumbuhan anak dapat berkembang secara optimal, maka anak perlu mendapatkan gizi yang cukup dan seimbang. Kurang gizi pada anak akan memberikan dampak jangka panjang pada si anak itu sendiri.

Ada sebuah penelitian yang dimasukkan dalam jurnal Hypertenion yang menyatakan baha, orang deasa yang ketika aktu kecilnya mengalami kurang gizi cenderung memiliki resiko penyakit jantung yang lebih tinggi. Hal ini disebabkan oleh adanya tekanan darah yang terlalu tinggi serta perkembangan organ jantung yang tidak optimal.

ibu hamil

ibu hamil

Berbagai nutrisi sangat dibutuhkan ketika seorang anak dalam masa pertumbuhan. Bila sampai tidak terpenuhi, maka anak tersebut akan berpotensi mengalami ketidaksempurnaan dalam pertumbuhannya dan sayangnya, hal seperti ini akan bersifat permanen sampai anak tersebut beranjak dewasa.

Kurang gizi pada anak akan memberikan konsekuensi jangka panjang terhadap anatomi jantung serta aliran darah pada anak itu sendiri di masa depan.

Dalam penelitian tersebut, para peneliti membandingkan kesehatan dari 116 orang deasa yang pernah mengalami kurang gizi dengan 45 orang pria maupun wanita yang tidak pernah mengalami kurang gizi di Jamaika.

Ketika penelitian tersebut berlangsung, para pesertanya berusia 20 sampai 30an. Para peserta menjalani pemerikasan ekokardiogram untuk mengevaluasi fungi organ jantungnya. Selain itu, para peneliti juga mengukur berat badan, tinggi badan serta tekanan darah para peserta.

Dalam penelitian tersebut, ditemukan bahwa, orang dewasa yang dulu ketika masih anak-anak pernah mengalami kurang gizi cenderung memiliki tekanan darah diastolik lebih tinggi jika dibandingkan dengan orang yang masa kanak-kanaknya tidak mengalami kurang gizi.

Darah mereka cenderung sulit untuk mengalir ke pembuluh darah yang kecil bahkan jantung mereka juga tidak efisien dalam memompa darah ke seluruh tubuh. Jadi, anak-anak yang mengalami kurang gizi dikhawatirkan cenderung memiliki resiko penyakit hipertensi yang sangat tinggi ketika anak tersebut sudah dewasa.

Selain itu, anak-anak yang kurang gizi cenderung bertubuh pendek atau dalam kedokteran disebut dengan istilah stunting. Sayangnya, masyarakat kita masih belum menyadari baha hal seperti ini merupakan masalah yang serius.

Stunting akan memberikan dampak yang fatal bagi produktivitas anak tersebut ketika deasa. Sebab, stunting atau tubuh pendek karena kurang gizi akan ikut berdampak pada kualitas sumber daya manuia. Jadi, untuk menurunkan angka anak balita yang mengalami tubuh pendek karena kurang gizi, diperlukan intervensi atau keikut sertaan banyak pihak sejak masa kehamilan karena persoalan seperti ini merupakan hal yang sangat buruk.