Hubungan Serta Manfaat Dari Tetap Aktif Bergerak

keluarga aktif

keluarga aktif

Menurut sebuah penelitian yang dilakukan di Inggris, seorang ibu yang selalu bergerak aktif akan membuat anaknya juga ikut bergerak secara fisik. Anak-anak tidak dapat aktif bergerak dengan sendirinya. Maka dari itu orangtua juga harus berperan dalam mengembangkan kebiasaan agar tetap aktif setiap hari.

Penelitian ini meneliti kebiasaan 554 anak yang berusia empat tahun beserta ibunya dengan menggunakan monitor serta alat pengukur denyut jantung yang dipasang di dada selama seminggu. Para peserta penelitian tersebut trus menggunakan alat tersebut saat melakukan berbagai kegiatan bahkan sampai mereka tidur.

Salah seorang peneliti dalam penelitian tersebut menyatakan bahwa setiap menit ibu melakukan berbagai aktivitas dai yang menengah sampai tinggi, maka anaknya juga akan melakukan kegiatan yang sama sampai 10%. Jadi kesimpulannya, seorang ibu yang aktif bergerak akan membuat anaknya juga semakin akttif bergerak.

Kemungkinan besar adalah jika salah satu pihak tetap aktif maka akan memicu pihak yang lainnya untuk ikut bergerak secara aktif.

Seperti yang kita ketahui bersama kebiasaan tidak aktif bergerak atau gaya hidup sedentary tidak saja dapat meningkatkan resiko penyakit kardiovaskular maupun gangguan kesehatan kronis yang lain, namun ternyata juga dapat menimbulkan gangguan saraf yang berdampak buruk pada tekanan darah.

Olahraga dapat mempengarahui struktur organ otak karena dapat memicu pertumbuhan sel-sel baru. Namun, bila kita tidak aktif bergerak juga berpengaruh buruk pada organ otak. Sebab, bila kita tidak aktif bergerak maka dapat mempengaruhi pembentukan sel saraf tersebut dan bahkan dapat mengubah sel saraf.

Semakin banyak peneliti yang berusaha menemukan dampak buruk dari kebiasaan tidak aktif bergerak. Para peneliti telah menemukan penyakit-penyakit yang muncul karena kebiasaan tidak aktif bergerak, seperti diabetes, penyakit jantung serta berbagai gangguan kronis.

gaya hidup sedentary

gaya hidup sedentary

Para peneliti melakukan uji coba bahaya tidak aktif bergerak pada tikus dalam laboratorium. Sekitar 6 ekor tikus dipisah menjadi 2 kelompok. Tikus kelompok pertama diberi mainan berupa roda berputar sehingga tikus-tikus tersebut terus bergerak dalam roda berputar tersebut. Sedangkan tikus kelompok kedua tida diberi mainan roda berputar sehingga tidak aktif bergerak.

Dalam waktu sekitar 3 bulan lamanya, tikus kelompok pertama telah berlari sekitar 5 km setiap hari. Lalu para peneliti menyuntik tikus-tikus tersebut dengan pewarna yang mewarnai sel saraf tertentu. Cara ini dilakukan untuk mengidentifikasi sel saraf di medula ventrolateral rostral, yaitu bagian dari otak yang mengendalikan sistem pernapasan dan sistem saraf yang berhubungan dengan olahraga.

Bagian otak ini juga berperan untuk mengontrol tekanan darah yang juga disebut sistem saraf simpatik yang penting sekali dalam hal memantau pembuluh darah untuk berkontraksi serta melebar sehingga aliran darah tetap lancar. Perlu kita ketahui bersama, orang-orang yang sistem saraf simpatiknya terhalang apapun cenderung terserang penyakit pada pembuluh darah.

Para peneliti menemukan perbedaan yang nyata pada sel saraf tikus yang aktif berserak dengan yang tidak bergerak sama sekal. Sel saraf medula ventrolateral rostral pada tikus yang tidak aktif bergerak cenderung berubah bentuk menjadi bercabang melebihi sel saraf yang normal. Cabang-cabang pada sel saraf ini rentan terstimulasi serta dapat mengirimkan pesan yang kacau ke susunan saraf yang nantinya mempengaruhi tekanan darah.

Meskipun penelitian ini belum diujikan pada manusia, namun para peneliti tetap berkeyakinan bahwa bagian otak pada tikus ini sama dengan bagian otak manusia karena fungsi kontrol sistemnya sama.

Kebiasaan tidak aktif bergerak juga dapat berpengaruh buruk terhadap kesehatan karena berhbungan langsung dengan kanker. Orang yang tidak bergerak secara aktif juga dapat membuat seseorang mengalami obesitas yang nantnya juga beresiko mengalami kanker. Namun, kanker seperti ini masih bisa dicegah dengan cara mengubah kebiasaan serta terus bergerak secara aktif.

Seorang dokter pemerati gaya hidup serta ahli fisiologi yang bernama Grace Judio-Kahl, mengatakan bahwa ada penelitian yang menunjukkan bahwa kebiasaan tidak aktif bergerak berkaitan dengan munculnya kanker usus besar atau kanker colon. Namun sayangnya masih belum ada penjelasan tentang hubungan tersebut.

tidak aktif bergerak

tidak aktif bergerak

Penelitian ini diambil dari data orang-orang yang sudah terserang kanker dan melihat gaya hidup dari orang tersebut. Dan dari data yang didapat, 60% dari orang-orang tidak aktif bergerak mengalami kanker colon atau kanker usus besar.

Dari data tersebut juga ditemukan bahwa pengidap obesitas dengan pola makan yang buruk serta tidak aktif bergerak cenderung terserang penyakit kanker tertentu, seperti kanker usus, kanker prostat, kanker payudara serta kanker uterus.

Mengubah gaya hidup terus aktif bergerak umumnya disarankan sebagai upaya pencegahan serangan berbagai macam penyakit termasuk penyakit kanker. Namun, hidup yang lebih aktif bergerak memerlukan motivasi yang kuat dan diikuti dengan berbagai aktivitas fisik serta olahraga yang dilakukan secara konsisten.

Cara yang paling sederhana dan mudah adalah membiasakan diri melakukan aktivitas fisik sederhana, yaitu dengan membatasi waktu duduk.Cara lainnya adalah dengan menggunakan tangga saat belanja maupun bekerja d kantor serta meluangkan waktu untuk berolahraga selama 20 menit.

Sedangkan untuk orang yang sudah terlanjur mengalami obesitas sebaiknya lakukan lebih banyak gerak serta olahraga dengan frekuensi serta intensitas yang lebih tinggi.