Karakter Seseorang Dan Cara Lain Deteksi Kanker

gila kerja

gila kerja

Sifat dan karakter seseorang akan menentukan bagaimana tingkah lakunya dalam sehari-hari. Tingkah laku seperti ini nantinya akan membentuk pola makan, kerja, istirahat, olahraga maupun kebiasaan yang buruk, seperti merokok. Jadi, karakter juga akan berpengaruh pada tingkat kesehatan seseorang.

Seseorang yang memiliki karakter workaholic atau gila kerja, umumnya membutuhkan asupan makanan dalam jumlah yang lebih banyak untuk mendukung staminanya selama bekerja. Sayangnya, karakter gila kerja memiliki kecenderungan asal makan serta tidak memperhatikan nutrisi yang terkandung dalam makanan yang ia konsumsi.

Menurut Liong Pit Lin, seorang survivor kanker sekaligus praktisi hidup sehat, manusia yang memiliki karakter gila kerja merupakan salah satu kelompok yang rawan terserang penyakit kanker.

Manusia dengan karakter gila kerja, umumnya makan asal kenyang. Maka dari itu, sifat seperti ini sangat rawan sekali terserang penyakit kanker. Kebiasaan asal makan dikombinasikan dengan kebiasaan buruk seperti merokok, akan semakin meningkatkan faktor resiko seseorang terserang penyakit kanker.

Selain orang yang berkarakter gila kerja, orang dengan karakter perfeksionis juga merupakan golongan orang yang memiliki resiko terserang kanker yang cukup tinggi.

Seseorang yang memiliki karakter perfeksionis memiliki keinginan untuk serba sempurna dengan standar yang ia ciptakan sendiri. Orang yang memiliki karakter perfeksionis cenderung tidak dapat mentoleransi sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan atau standarnya.

perfeksionis

perfeksionis

Sifat atau karakter yang perfeksionis ini akan memancing seseorang menjadi cepat sekali mengalami stres. Saat ia merasa tertekan ia tidak dapat meperhatikan kesehatan dirinya sendiri. Ia akan lebih memfokuskan diri untuk enyelesaikan sesuatu yang tidak sesuai dengan standarnya.

Liong Pit Lin mengakui bahwa dulunya ia adalah seseorang yang sangat bersemangat untuk mengejar karier sehingga membuatnya menjadi seseorang yang gila kerja dan juga seseorang yang perfeksionis. Sifat inilah yang membuat dirinya mengalami penyakit kanker.

Sel-sel kanker terus menggerogoti dalam tubuhnya, mulai dari payudara, rahim hingga menuju ke tulang belakang. Kanker ini dialami oleh Long Pit Lim sejak tahun 1996 sampai 1999. Rileks serta selalu berpikir positif adalah resep yang ia gunakan untuk melawan kanker yang dialaminya. Liong juga selalu menyarankan untuk lebih banyak tersenyum dan tertawa dan tidak lupa untuk memperbanyak konsumsi sayuran serta buah.

Seperti yang kita ketahui bersama, kanker merupakan penyakit yang sangat berbahaya. Selama ini, deteksi kanker biasanya sering menggunakan zat radioaktif, baik dimasukkan ke tubuh melalui injeksi maupun penyinaran. Zat radioaktif ini digunakan sebagai tracer untuk mengetahui tingkat pertumbuhan sel kanker dalam tubuh.

Sebenarnya, terlalu sering menggunakan zat radioaktif akan sangat berbahaya bagi tubuh. Radiasi yang dipancarkan akan membuat sel-sel dalam tubuh kita mati maupun dalam kondisi yang rentan. Bahkan terkadang dapat menyebabkan berbagai jenis penyakit kanker yang lain.

minuman bersoda dalam botol

minuman bersoda dalam botol

Saat ini sudah ada cara lain deteksi kanker yang lebih aman yang ditemukan oleh para ahli dari University Collage London. Dalam temuan ini dinyatakan bahwa coklat, kue maupun minuman bersoda yang berbahan dasar gula atau mengandung gula ternyata juga bisa digunakan untuk mendeteksi ada tidaknya sel-sel kanker dalam tubuh.

Menurut para peneliti, tumor ganas ternyata akan mengkonsumsi lebih banyak glukosa atau gula bila dibandingkan dengan jaringan sehat lainnya dalam tubuh. Glukosa berfungsi untuk mempercepat pertumbuhan sel-sel tumor. Para ilmuwan mengembangkan teknik yang baru dalam melacak bagaimana gula diserap oleh tubuh.

Para peneliti menggunakan alat scanner MRI untuk melihat asupan glukosa dalam tubuh. Hasilnya, sel tumor bersinar terang setelah mengkonsumsi makanan maupun minuman yang manis. Para peneliti merasa heran bahwa ternyata scanner MRI dapat digunakan untuk melacak pergerakan glukosa dalam tubuh. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Medicine ini menggunakan tikus percobaan yang mengalami kanker usus besar.

Dalam penelitian tersebut juga ditemukan bahwa pertumbuhan kanker dapat dideteksi dengan menggunakan MRI dengan cara mengikuti pengolahan glukosa dalam tubuh tikus.

Riset ini tentunya merupakan sebuah harapan baru untuk mengobatan kanker. Cara seperti ini dinilai lebih aman, sederhana serta lebih mudah jika dibandingkan dengan penggunaan radioaktif. Dengan efek samping yang sedikit sekali, maka teknik ini dapat digunakan dalam jangka waktu yang dekat. Sehingga dokter dapat mengetahui reaksi sel kanker terhadap terapi pengobatan yang dijalani seseorang lebih cepat. Namun sayangnya metode ini masih belum disarankan untuk anak-anak serta wanita yang sedang dalam masa kehamilan.

Bagi pasien yang fobia terhadap jarum suntik, tentunya kabar seperti ini akan membuat anda merasa lega. Metode seperti ini tidak sama dengan metode PET atau Positron Emission Tomography yang perlu injeksi radioaktif, Metode MRI dengan glukosa tidak memerlukan suntikan. Cukup mengkonsumsi makanan yang mengandung glukosa saja.

Dengan metode ini para dokter dapat melihat penyerapan glukosa pada area sekitar sel tumor. Karena dianggap lebih baik bagi para pengidap kanker, sekarang merode ini sedang dalam tahap uji klinis. Uji klinis ini kemungkinan akan menggunakan glukosa murni dengan dosis tertentu yang lebih baik dari pada mengkonsumsi permen maupun cokelat.