Katarak

Katarak berasal dari bahasa Latin yang berarti cataracta atau air terjun dan dari bahasa Yunani καταράκτης (kataraktēs) atau καταρράκτης (katarrhaktēs), yang berarti turun bergegas.

Sehingga diistilahkan sebagai bagaikan air yang mengalir dangat deras sehingga berubah menjadi putih. Dan kata ini dipakai sebagai metafora untuk menggambarkan kekeruhan pada lensa mata.

Cataracta sendiri memiliki arti alternatif yaitu “gerbang jeruji” dan nama itu kemungkinan melewati Perancis yang kemudian menjadi memiliki makna “penyakit mata”. Dokter pertama di Persia menyebut dengan nazul-i-ah yang artinya keturunan dari air yang kemudian disebut sebagai air terjun. Karena air mata yang mengucur deras seperti air terjun.

Katarak adalah kerusakan pada mata yang menyebabkan rabun dan lensa mata berselaput sehingga lensa mata menjadi keruh dan tidak dapat ditembus oleh cahaya.

Katarak memiliki tingkat keparahan yang bervariasi mulai sedikit buram hingga buram total yang berkaitan dengan usia penderita .

Data menunjukkan bahwa lebih dari 90% orang kasus penyakit katarak diderita oleh orang yang berusia 65 tahun, dan sekitar 50% orang yang berusia 75 hingga 85 tahun mengalami penurunan daya penglihatan akibat katarak. Meskipun katarak sebenarnya dapat diobati, tetapi penyakit ini merupakan penyebab terjadinya kebutaan di dunia.

Katarak biasanya terjadi secara perlahan dan menyebabkan kehilangan penglihatan dan berpotensi menjadi buta jika tidak diobati.

Kondisi seperti ini biasanya berpengaruh pada kedua mata, namun yang sering kali terjadi adalah mempengaruhi pada satu bagian mata lebih awal dari yang lain.

Katarak pada usia lanjut disebut katarak sinilis, pada awalnya terjadi keburaman dalam lensa mata, kemudian disusul dengan adanya pembengkakan pada lensa dan penyusutan akhir dengan kehilangan transparasi secara keseluruhan.

Seiring dengan waktu lapisan luar katarak akan mencair dan membentuk cairan berwarna putih seperti susu, yang bisa menyebabkan peradangan berat bila kapsul lensa pecah dan terjadi kebocoran. Bila tidak diobati katarak dapat menyebabkan penyakit glaukoma.

Penyebab Katarak

Katarak berkembang karena berbagai macam sebab, seperti : trauma karena lensa protein, kontak dengan cahaya ultra violet terlalu lama, radiasi, efek sekunder dari penyakit hipertensi dan diabetes, usia lanjut.

Faktor genetik juga sering menjadi penyebab katarak kongenital dan sejarah keluarga yang juga berperan dalam predisposisi seseorang terkena katarak pada usia dini, dan fenomena “antisipasi” dalam katarak pra-senilis.

Penyakit katarak juga bisa diakibatkan karena adanya trauma fisik sehingga menyebabkan cedera pada mata. Sebuah studi menyatakan katarak berkembang diantara pilot-pilot pesawat komersil tiga kali lebih besar dari pada orang yang bekerja selain pilot .

Hal itu lebih disebabkan karena radiasi berlebihan yang berasal dari luar angkasa. Selain itu katarak juga bisa terjadi pada orang yang terkena radiasi infra merah, seperti halnya tukang peniup kaca yang sering mengalami “sindrom Pengelupasan”.

Paparan terhadap radiasi gelombang mikro juga bisa menyebabkan penyakit katarak. Kondisi alergi atau atopik juga dapat mempercepat perkebangan katarak, terutama pada anak-anak.

Beberapa obat juga dapat berpengaruh pada terjadinya katarak seperti kortikosteron dan Seroquel.

Jenis katarak

Secara umum katarak terbagi menjadi 4 jenis, yaitu:

1. Congenital, jenis ini terjadi sejak bayi lahir dan anak-anak, tumbuh berkembang pada tahun pertama. Namun katarak jenis ini jarang sekali terjadi.

2. Traumatik, katarak yang terjadi karena kecelakaan atau trauma pada mata.

3. Sekunder, katarak jenis ini disebabkan karena mengkonsumsi obat-obatan seperti kortikosteroid dan prednisone, serta orang yang menderita diabetes.

4. Katarak yang terjadi berhubungan dengan usia, dan katarak jenis ini paling umum terjadi. Sedangkan katarak jenis ini dibedakan lagi menjadi 3 jenis berdasarkan pada lokasinya :

  • Nuclear sklerosis : terjadi perubahan pada lensa mata secara perlahan sehingga lensa menjadi keras dan berwarna kekuningan. Lebih mempengaruhi pada pandangan jauh daripada pandangan baca, bahkan pandangan baca berubah menjadi baik. Membuat penderita menjadi susah membedakan warna, khususnya warna biru.
  • Cortical : mempengaruhi serat-serat pada lensa sehingga lensa menjadi keruh, dan penderita merasa silau terutama saat mengemudi pada malam hari.
  • Posterior subcapsular : terjadinya kekeruhan pada sisi belakang lensa. Katarak jenis ini menyebabkan penderita merasa silau, pandangan menjadi kabur meski pada kondisi terang atau siang hari, serta penurunan pandangan baca (pandangan dekat).

Katarak yang terjadi pada bayi dan anak-anak atau disebut Congenital disebabkan karena sang ibu terinfeksi virus pada saat masa kehamilan dan bisa juga terjadi karena faktor-faktor lain, seperti:

Faktor keturunan.

  • Cacat bawaan sejak kelahiran.
  • Masalah kesehatan pada ibu , contoh: diabetes
  • Penggunaan obat-obatan.
  • Mata tidak terlindung dalam waktu yang lama.
  • Pernah operasi mata sebelumnya.
  • Kecelakaan (trauma) pada mata
  • Faktor-faktor lain yang belum diketahui.

Gejala Katarak

Gejala awal serangan katarak adalah mata terasa gatal, air mata selalu keluar, penglihatan menjadi terganggu saat malam hari, dan tidak tahan terhadap sinar seperti sinar matahari atau lampu.

Kemudian penderita seolah melihat selaput tipis di depan penglihatannya. Selaput yang menutupi lensa mata itu akhirnya semakin merapat dan kemudian menutup seluruh bagian mata. Bila sudah mencapai tahap ini maka penderita akan kehilangan daya penglihatannya.

Gejala-gejala katarak sangat mirip dengan gejala citrosis mata.

Penyakit katarak ditandai dengan lensa mata yang keruh, yang disebabkan karena adanya penambahan cairan pada lensa atau pada denaturasi protein lensa atau bisa karena kombinasi dari keduanya.

Penyakit katarak umumnya menyerang pada kedua mata penderita dan terjadi secara perlahan-lahan.

Walaupun selalu terbentuk sel-sel baru pada lensa, ada banyak faktor yang dapat menyebabkan daerah pada lensa menjadi buram, dan keras. Lensa yang buram tersebut tidak dapat meneruskan cahaya masuk ke retina yang nantinya diperoses dan dikirim melalui saraf-saraf optik ke otak.