Kekerasan Pada Anak Dapat Sebabkan Anak Menderita Penyakit Kronis

kekerasan pada anak

kekerasan pada anak

Sebaiknya mulai sekarang, jangan memukul anak bila anak melakukan kesalahan. Karena, ada sebuah penelitian terbaru yang dilakukan di University of Manitoba di Kanada telah menyebutkan bahwa, memukul anak akan dapat meningkatkan resiko penyakit jantung, radang sendi, kanker hingga obesitas pada anak.

Para peneliti mengumpulkan berbagai data dari sekitar 34.226 orang responden yang berumur diatas 20 tahun.

Dan para peneliti akhirnya menemukan bahwa hukuman secara fisik yang diterima oleh para responden ketika masih anak-anak dapat meningkatkan resiko obesitas sekitar 24%, resiko radang sendi sekitar 35% sedangkan sisanya mengalami resiko penyakit jantung.

“Anak-anak memang perlu untuk diajari cara untuk berdisplin, namun sebisa mungkin janganlah memakai kekerasan pasa anak” kata Tracie Afifi yang merupakan kepala peneliti dalam penelitian tersebut.

Para peneliti di Amerika Serikat juga menemukan hal yang sama. Dalam sebuah studi yang diikuti oleh orang-orang dewasa yang mengidap kanker, asma serta jantung. Para peneliti mendata para responden dan menanyakan apakah mereka pernah diperlakukan secara kasar maupun disiksa ketika masih anak-anak.

Dan para peneliti tersebut akhirnya menemukan bahwa stres yang disebabkan oleh adanya pemukulan maupun teriakan pada saat mereka masih anak-anak dapat menyebabkan munculnya perubahan biologis yang cenderung menyebabkan munculnya berbagai penyakit.

hukuman fisik bisa sebabkan berbagai penyakit kronis

hukuman fisik bisa sebabkan berbagai penyakit kronis

Penelitian yang lainnya juga menunjukkan hasil bahwa trauma yang parah ketika di usia anak-anak, seperti kekerasan secara fisik maupun secara seksual, ternyata dapat meningkatkan resiko berbagai macam penyakit kronis pada anak nantinya.

Meskipun begitu, para ahli mengatakan bahwa sulit sekali untuk menyingkirkan berbagai faktor yang lainnya, seperti isolasi sosial maupun faktor kemiskinan yangs eringkali berkaitan dengan kekerasan fisik maupun verbal pada anak sehingga dapat menyebabkan penyakit kronis di kemudian hari.

Selain itu para peneliti di Saudi Arabia juga melakukan penelitian pada 250 orang responden dewasa yang sehat, lalu membandingkan data mereka dengan 150 responden dewasa yang mengidap penyakit jantung, 150 responden yang mengidap asma serta 150 orang responden yang mengidap penyakit kanker. Para responden tersebut ditanyai tentang masa kecilnya. Apakah mereka mengalami kekerasan secara fisik maupun verbal ketika masih anak-anak serta seberapa sering mengalami hal-hal seperti itu.

Dan ternyata sekitar 30% pasien pengidap penyakit jantung cenderung mengalami kekerasan secara fisik lebih sering, sedangkan 70% pasien pengidap kanker cenderung sering mengalami kekerasan fisik seperti dipukul saat masih anak-anak.

Akhirnya hal seperti ini membuat para peneliti mengambil kesimpulan, bahwa stres yang dialami pada masa awal kehidupan atau anak-anak dalam bentuk trauma maupun pelecehan diketahui mampu menciptakan perubahan dalam jangka panjang yang dapat mempengaruhi kecenderungan suatu penyakit tertentu dikemudian hari.

child-abuse-stories1Namun sayangnya, dalam semua penelitian yang dilakukan tersebut, telah menunjukkan bahwa masyarakat masih menganggap bahwa hukuman secara fisik itu masih dalam batasan wajar.

Padahal penggunaan hukuman fisik maupun pelecehan tersebut akan membuat anak menjadi stres dan dampaknya, anak-anak tersebut akan mengalami berbagai macam penyakit sebagai akibat dari trauma serta pelecehan.

Di negara Inggris sendiri, memukul anak hingga menimbulkan bekas akan terancam hukuman pidana maksimal 5 tahun penjara. Sedangkan di Indonesia sendiri, kejahatan seperti memukuli anak akan dituntut hukuman selama 3 tahun 6 bulan penjara sesuai dengan pasal Perlindungan Anak Nomor 23/Tahun 2003.

Menurut Dr. Andrea Danese, seorang dosen Klinis Child & Adolescent Psychiatry dari London, mengatakan bahwa penelitian seperti ini akan menambah hubungan antara penganiayaan pada anak dengan pertumbuhan anak.

Ada kemungkinan bahwa hukuman fisik pada anak tidak hanya mempengaruhi resiko penyakit secara mental, namun juga berperan penting dalam resiko terjadinya berbagai penyakit medis seperti penyakit jantung, kanker maupun asma.

“Bila kita dapat memahami perubahan biologis serta perilaku anak akibat dari penganiayaan anak, mungkin kita dapat menghentikan prosesnya sebelum berbagai gejala klinis tersebut muncul” kata Dr. Andrea Danese.

Sementara itu, seorang ahli psikoterapis yaitu Dr. Fran Walfish memberi beberapa saran untuk mengajarkan kedisiplinan pada anak tanpa memakai kekerasan, yaitu:

  • Orang tua harus berpikir terlebih dahulu sebelum berbicara maupun menghadapi anaknya. Bila anak menjadi marah, sebaiknya orang tua tidak perlu ikut marah.
  • Orang tua harus mau mendengarkan segala keluh kesah si anak. Sebab, jarang sekali ada orang tua yang mau mendengarkan anaknya, namun justru menekan dan menuntut berbagai macam hal pada anak-anaknya.
  • Perkenalkan tanggung jawab anak tanpa memarahi si anak. Contoh, bila anak menolak untuk mandi, maka tuntunlah anak anda ke kamar mandi lalu bantu anak anda untuk mandi.
  • Beri batasan pada anak untuk menonton televisi dan bermain, namun resiko anda harus bisa membuat suasana di rumah menjadi lebih nyaman.