Masih Banyak Pengidap Katarak Yang Belum Dioperasi

katarak

katarak

Dengan adanya peningkatan usia hidup penduduk, maka jumlah orang-orang yang mengidap penyakit katarak menjadi semakin meningkat. Di Indonesia sendiri setiap tahunnya telah dilakukan operasi katarak pada 240.000 orang pengidap katarak.

Namun menurut Nafsiah Mboi, selaku Menteri Kesehatan menyatakan bahwa, masih ada kesenjangan pada layanan kesehatan sehingga tidak semua orang yang mengidap katarak yang bisa dioperasi. Operasi katarak yang telah dilakukan telah menangani sebanyak 170.000 orang. Dan masih ada sekitar 70.000 orang pengidap katarak yang masih belum dioperasi.

Berbagai penyebab dari adanya kesenjangan pada penanganan katarak, meliputi luas wilayah serta kondisi geografis di Indonesia. Selain itu masih ada faktor lainnya, yaitu masih kurangnya pemahaman pada masyarakat tentang kebutaan yang sebenarnya masih bisa ditangani.

Seperti yang kita ketahui bersama, penyakit katarak merupakan penyebab utama dari berbagai kasus kebutaan di Indonesia dan bahkan di seluruh dunia. Penyakit katarak ditandai dengan gejala seperti penglihatan yang semakin kabur, berkabut serta buram.

Penglihatan juga semakin memburuk ketika malam hari maupun pada siang hari atau karena cahaya yang terlalu terang. Pengidap katarak juga lebih peka terhadap kondisi yang terlalu terang atau silau. Mekipun katarak pada umumnya terjadi pada salah satu mata, namun perlahan tapi pasti akan menyerang kedua mata.

merokok

merokok

Merokok, merupakan kebiaaan yang buruk bagi kesehatan, sehingga menghentikan kebiasaan buruk seperti merokok nantinya akan menurunkan berbagai resiko terserang penyakit.

Kebiasaan merokok tidak hanya berkaitan dengan munculnya penyakit jantung. Ada juga penyakit lain yang disebabkan oleh kebiaaan merokok. Ada penelitian terbaru yang menemukan bahwa menghentikan kebiasaan merokok dapat mengurangi resiko mengalami penyakit katarak.

Umumnya, penyakit katarak sering dialami oleh mereka yang yang telah berusia lanjut. Kondisi seperti ini sebenarnya merupakan pertanda dari adanya penurunan fungsi lensa mata sehingga penglihatan tampak seperti berkabut serta menyebabkan penurunan daya penglihatan.

Namun, para peneliti dari Swedia telah menemukan, bahwa pria paruh baya yang biasa merokok sampai 15 batang per hari dapat menurunkan resiko mengalami katarak dalam waktu dua puluh tahun sejak ia berhenti merokok.

Birgitta Ejdervik Lindblad salah seorang peneliti yang berasal dari Orebro Univerity Hospital, menyatakan bahwa menghentikan kebiasaan merokok dapat mengurangi resiko terjadinya katarak, namun efeknya baru bisa dirasakan setelah puluhan tahun.

Sebab, merokok juga berhubungan dengan penyakit mata, sehingga dengan cara menghentikan kebiasaan merokok merupakan hal yang baik untuk mencegah terjadinya katarak. Maka dari itu, dokter mata juga perlu menegaskan pada pasiennya tentang bahaya merokok dan pentingnya menghentikan kebiasaan merokok.

Penelitian ini melibatkan pria yang berusia 45 ampai 79 tahun. Di sini, para peneliti menganalisa hubungan antara berhenti merokok dengan lebih dari 5700 kasus operasi katarak yang dilakukan selama 12 tahun terakhir.

Dalam penelitian ini ditemukan bahwa, pria yang merokok sebanyak 15 batang rokok per hari atau bahkan lebih memiliki resiko 24% lebih tinggi untuk menjalani operasi katarak jika dibandingkan orang yang tidak merokok. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, menghentikan kebiasaan merokok juga dapat mengurangi angka resiko tersebut.

anatomi mata

anatomi mata

Para peneliti menemukan bahwa lebih dari 20 tahun setelah berhenti merokok, pria yang sebelumnya punya kebiasaan merokok sebanyak 15 batang per hari mengalami penurunan resiko operasi katarak sampai 21% dibandingkan dengan orang yang tidak pernah merokok.

Selain dipengaruhi oleh faktor usia serta faktor kebiasaan buruk seperti merokok, katarak juga dipengaruhi oleh faktor paparan sinar ultraviolet yang berlebihan. Seperti yang kita ketahui bersama, Indonesia berada di daerah tropis yang memiliki sinar matahari yang sangat berlimpah. Maka dari itu, penduduknya harus lebih berhati-hati terhadap kemungkinan terjadinya katarak.

Gunakanlah kacamata yang tepat untuk mencegah paparan sinar ultraviolet yang berlebihan pada organ mata. Karena katarak telah menyumbang sekitar 70% dari total 3,6 juta kasus kebutaan di Indonesia, maka sudah seharusnyalah penyakit ini perlu perhatian yang lebih.

Katarak merupakan suatu infeksi mikroba berupa peradangan berat pada seluruh jaringan intraokular. Infeksi seperti ini umumnya disertai adanya rasa nyeri, kemerahan pada konjungtiva serta dapat menyebabkan kebutaan permanen.

Jumlah pengidap katarak di Indonesia merupakan terbesar ketiga di seluruh dunia serta urutan pertama di kawasan Asia Tenggara. Katarak paling sering dijumpai pada orang-orang yang sudah lanjut usia, terutama yang telah berusia diatas 50 tahun.

operasi katarak metode baru

operasi katarak metode baru

Katarak tidak dapat ditangani dengan menggunakan obat, namun harus dioperasi. Kacamata hanya berfungsi untuk mengurangi kaburnya penglihatan, namun hanya bersifat sementara saja. Karena biasanya meskipun dibantu dengan kacamata, penglihatan lama- lama akan semakin kabur juga.

Operasi katarak dengan menggunakan pisau merupakan metode umum untuk memecahkan atau menghilangkan kekeruhan pada lensa mata. Namun, dengan kemajuan teknologi ilmu kedokteran, telah ditemukan operasi katarak tanpa menggunakan pisau atau disebut bladeless laser cataract surgery.

Operasi katarak dengan metode lama dengan cara membuka kornea mata dan dilakukan pembedahan sepanjang 5 sampai 7 milimeter pada lensa mata. Sedangkan operasi katarak dengan metode baru maka pembedahan pada lensa mata hanya perlu sepanjang 1,4 sampai 2,2 milimeter saja. Maka dari itu, masa penyembuhan operasi katarak metode baru tidak memerlukan waktu yang lama.