Mengenal Penyebab Dan Gejala Penyakit Divertikulitis

gambaran divertikulitis

gambaran divertikulitis

Divertikulitis merupakan salah satu jenis penyakit pencernaan yang banyak terjadi di bagian usus besar dan jarang sekali terjadi pada usus kecil. Apabila pada dinding usus terdapat banyak kantung, kantung inilah yang disebut Diverticulae. Ketika kantong diverticulae mengalami peradangan karena infeksi atau penyakit tertentu, kondisi inilah yang disebut dengan nama diverticulitis.

Orang-orang yang mengalami diverticulitis umumnya akan merasakan sakit seperti rasa nyeri yang menusuk2 di bagian perutnya, demam serta peningkatan jumlah sel darah putih dalam tubuhnya. Mereka juga terkadang mengeluhkan rasa mual maupun diare yang kemungkinan terjadi karena sembelit.

Tingkat keparahan dari gejala diverticulitis sangat tergantung dari sejauh mana infeksi serta komplikasi yang terjadi. Terkadang seseorang yang mengalami diverticulitis mungkin akan mengalami rasa sakit di bagian perut sebelah kanan. Kemungkinan hal seperti ini disebabkan oleh munculnya diverticula pada bagian kolon sigmoid dalam jumlah banyak. Beberapa pasien juga ada yang melaporkan mengalami pendarahan dari dubur.

Penyebab dari penyakit diverticulitis masih belum bisa diketahui secara pasti. Sekitar 40% dari kasus penyakit diverticulitis diyakini disebabkan oleh adanya factor genetika, sedangkan 60% nya disebabkan karena factor lingkungan. Obesitas merupakan factor resiko yang dapat meningkatkan kecenderungan mengalami diverticulitis.

Kemungkinan, infeksi terjadi bila tinja maupun bakteri tidak bisa dikeluarkand engan maksimal, sehingga terperangkan dalam diverticula. Bisa juga diverkulitis disebabkan oleh adanya peningkatan tekanan dalam usus besar, sehingga dapat melemahkan dinding diverticula yang menyebabkan terjadinya infeksi. Atau bisa juga karena adanya penyempitan pada diverticulum, sehingga mengurangi suplai darah yang kemudian menyebabkan peradangan.

kacang-kacangan

kacang-kacangan

Masih belum jelas apa peranan dari serat makanan dalam hal penyakit diverticulitis. Ada penyataan yang mengatakan bahwa diet rendah serat mampu memicu terjadinya penyakit diverticulitis. Namun masih belum ada data pasti yang mendukung tentang penyataan tersebut.

Masih belum ada bukti yang menunjukkan bahwa menghindari konsumsi kacang-kacangan serta biji-bijian mampu mencegah perkembangan diverticulitis untuk kasus diverticulitis akut. Malah ada beberapa fakta yang menyatakan bahwa mengkonsumsi kacang-kacangan, biji-bijian serta jagung dapat menghindari terjadinya diverticulitis pada pria dewasa.

Dalam kasus diverticulitis yang rumit, bakteri mampu menyerang bagian luar usus besar bila diverticulum ikut mengalami perdangan. Bila infeksi menyebar ke selaput rongga perut atau peritoneum, maka kondisi seperti mampu menyebabkan terjadinya peritonitis yang fatal.

Terkadang diverticula yang meradang mampu menyebabkan terjadinya penyempitan pada usus, yang menyebabkan obstruksi. Selain itu, bagian usus besar yang terinfeksi dapat menganggu kerja kandung kemih maupun organ lain yang ada pada rongga panggul.

Peradangan pada diverticula dapat menyebabkan hunungan abnormal atau fistula antara usus besar dengan organ lainnya yang berdekatan. Kebanyakan fistula terbentuk diantara kolon sigmoid serta kandung kemih.

Fistula justru lebih sering terjadi pada pria. Pada wanita, bila rahimnya sudah diangkat, maka resiko terbentuknya fistula akan semakin besar. Pada fistula tertentu, isi usus, termasuk bakteri normal, akan masuk ke dalam kandung kemih serta menyebabkan infeksi saluran kemih. Fistula juga dapat terjadi diantara usus besar dengan usus halus, rahim, vagina, dinding perut bahkan menyebar ke paha maupun dada.

Penyakit diverticulitis dapat menyebabkan komplikasi yang berbahaya. Beberapa komplikasi yang bisa terjadi, meliputi:

  • Peradangan pada jaringan di sekitarnya
  • Peradangan yang menyebar ke dinding usus
  • Pecahnya dinding diverticula
  • Pembengkakan atau abses
  • Infeksi perut atau peritonitis
  • Perdarahan pada bagian usus
  • Penyumbatan usus

Diagnosis baru bisa ditegakkan berdasarkan pada gejala-gejala yang muncul. Pemeriksaan rontgen dengan barium enema dapat dilakukan untuk memperkuat diagnosis atau untuk mengevaluasi masalah yang mampu merusak maupun menembus usus yang mengalami peradangan, sehingga pemeriksaan umumnya ditunda selama beberapa minggu.

Terkadang apendisitis, kanker kolon maupun kanker ovarium sering dianggap sebagai kasus diverticulitis. Pemeriksaan CT scan maupun USG dapat dilakukan untuk memastikan masalah radang usus buntu atau abses.

Untuk menyingkirkan dugaan kanker, dapat diperiksa dengan melakukan kolonoskopi, khususnya bila terjadi perdarahan. Pembedahan eksplorasi mungkin diperlukan untuk memperkuat diagnosa.

keadaan usus yang mengalami divertikulitis

keadaan usus yang mengalami divertikulitis

Penyakit diverticulitis ringan dapat diobati dengan memeprbanyak istirahat, mengkonsumsi makanan yang lunak serta minum obat antibiotic. Gejalanya akan menghilang dengan cepat. Setelah beberapa hari, dapat melakukan diet rendah serat serta psilum. Setelah satu bulan, umumnya sudah bisa mengkonsumsi makanan-makanan yang berserat.

Pasien dengan gejala yang lebih berat,s eperti nyeri perut yang terlokalisir, demam serta gejala lain dari infeksi serius atau bahkan komplikasi, umumnya akan dirawat di rumah sakit. Pemberian cairan infus, antibiotic injeksi, istirahat total serta tidak makan maupun minum apapun melalui mulut, sampai gejalanya benar-benar hilang.

Bila keadaan tidak kunjung membaik, khususnya mulai terasa nyeri seperti ditekan dan demam tinggi, kemungkinan perlu dilakukan upaya pembedahan. Pembedahan darurat harus dilakukan pada si pasien yang mengalami perforasi serta peritonitis. Bagian yang mengalami perforasi akan diangkat dan dibuatkan saluran khusus antara usus besar dengan permukaan kulit atau biasa disebut kolostomi.

Bila terjadi pendarahan hebat, maka sumbernya dapat diidentifikasi dengan melakukan pemeriksaan angiografi atau penyuntikan zat warna dalam pembuluh darah. injeksi vasopressin atau obat untuk menyempitkan pembuluh darah balik juga bisa dilakukan untuk mengendalikan pendarahan. Namun cara seperti ini tergolong berbahaya, khususnya bagi orang-orang lanjut usia.