Pemeriksaan Dan Pencegahan Osteoporosis

kondisi osteoporosis

Seperti yang kita ketahui sebelumnya, osteoporosis terjadi karena kerapuhan pada tulang yang umumnya terjadi karena faktor usia serta penyakit maupun obat-obatan tertentu.

Kepadatan pada tulang akan berkurang secara perlahan terutama pada pengidap osteoporosis senilis, sehingga penyakit ini tidak menimbulkan gejala-gejala yang signifikan. Dan bahkan beberapa pengidapnya tidak memiliki gejala osteoporosis tertentu.

Bila kepadatan pada tulang mengalami penurunan secara signifikan sehingga tulang akan mengalami kehancuran atau kolaps, maka umumnya akan timbul nyeri pada tulang serta kelainan bentuk pada tulang.

Kehancuran pada tulang belakang dapat menyebabkan nyeri punggung menahun. Tulang belakang yang rapuh dapat mengalami kehancuran secara spontan maupun karena cedera ringan.

Umumnya rasa nyeri akan muncul secara tiba-tiba serta dapat dirasakan pada bagian tertentu dari punggung, yang nanti akan bertambah nyeri bila si pengidap berjalan maupun berdiri.

Bila daerah yang sakit itu di sentuh maka akan terasa sakit, namun umumnya rasa sakit tersebut berangsur-angsur akan menghilang dalam beberapa minggu maupun dalam beberapa bulan.

Bila beberapa tulang belakang mengalami kehancuran, maka akan terbentuk kelengkunggan yang bersifat abnormal dari rulang belakang atau biasa disebut punuk Dowager yang dapat menyebabkan ketegangan pada otot dan terasa sakit.

Tulang yang lainnya juga bisa patah, dan seringkali peristiwa ini terjadi karena adanya tekanan yang ringan atau bisa juga karena terjatuh.

Salah satu kasus patah yang sangat serius adalah patah pada tulang panggul. Selain itu yang paling sering terjadi adalah kasus patah tulang lengan atau radius di daerah persambungan dengan pergelangan tangan, yang disebut fraktur Colles.

Selain itu pada orang yang mengidap osteoporosis, kasus patah tulang cenderung dapat sembuh secara perlahan.

Pada individu yang mengalami patah tulang, diagnosis osteoporosis berdasarkan pada gejala, pemeriksaan fisik serta rontgen tulang.

Pemeriksaan Osteoporosis

Pemeriksaan lebih lanjut kemungkinan akan sangat dibutuhkan untuk menyingkirkan keadaan-keadaan yang tidak diinginkan lainnya agar dapat diatas, yang dapat menyebabkan osteoporosis.

Untuk diagnosa penyakit osteoporosis sebelum patah tulang terjadi maka dilakukan pemeriksaan yang bertujuan untuk menilai kepadatan tulang.

Pemeriksaan yang paling akurat adalah dengan DXA atau Dual-energy X-ray Absorptiometry. Pemeriksaan ini dapat dikatakan aman serta tidak menimbulkan rasa nyeri, dalam waktu sekitar 5 hingga 15 menit.

DXA sangat berguna bagi:

  • Wanita yang memiliki resiko yang tinggi mengidap osteoporosis.
  • Pasien yang diagnosisnya belum pasti.
  • Pasien yang hasil pengobatannya harus dinilai lebih akurat.

Tindak pencegahan penyakit osteoporosis, meliputi:

  • Mempertahankan serta meningkatkan kepadatan struktur tulang dengan cara mengkonsumsi kalsium yang cukup.
  • Melakukan aktifitas fisik maupun olahraga beban.
  • Mengkonsumsi obat-obatan tertentu bagi beberapa orang tertentu.

Mengkonsumsi kalsium dalam jumlah yang cukup akan sangat efektif, terutama sebelum tercapainya tahan kepadatan tulang maksimal atau sekitar umur 30 tahun. Minum dua gelas susu serta ditambah dengan asupan vitamin D secara rutin akan meningkatkan kepadatan tulang pada wanita setengah baya yang sebelumnya kebutuhan kalsiumnya tidak tercukupi. Namun, tablet kalsium serta susu yang dikonsumsi setiap hari belakangan menjadi suatu hal yang diperdebatkan sebagai salah satu pemicu terjadinya osteoporosis, berkaitan dengan teori osteoblast.

mencegah osteoporosis

Olahraga beban misalkan dengan cara berjalan serta menaiki tangga dapat meningkatkan kepadatan tulang. Berenang justru tidak meningkatkan kepadatan pada tulang.

Estrogen dapat membantu mempertahankan kepadatan struktur tulang pada wanita serta sering diminum secara bersamaan dengan progesteron.

Terapi sulih estrogen dinilai sangat efektif dan dilakukan dalam 4 hingga 6 tahun setelah menopause, namun meskipun baru dimulai lebih dari 6 tahun setelah masa menopouse, masih dapat memperlambat kerapuhan pada tulangserta dapat mengurangi resiko patah tulang.

Raloksifen, merupakan obat yang menyerupai estrogen yang baru, yang kemungkinan akan kurang efektif daripada estrogen dalam pencegahan kerapuhan tulang, namun tidak memiliki efek samping pada payudara maupun rahim.

Untuk mencegah osteoporosis, pemakaian bisfosfonat seperti alendronat dapat digunakan secara mandiri maupun bersama dengan terapi sulih hormon.