link750 link751 link752 link753 link754 link755 link756 link757 link758 link759 link760 link761 link762 link763 link764 link765 link766 link767 link768 link769 link770 link771 link772 link773 link774 link775 link776 link777 link778 link779 link780 link781 link782 link783 link784 link785 link786 link787 link788 link789 link790 link791 link792 link793 link794 link795 link796 link797 link798 link799 link800 link801 link802 link803 link804 link805 link806 link807 link808 link809 link810 link811 link812 link813 link814 link815 link816 link817 link818 link819 link820 link821 link822 link823 link824 link825 link826 link827 link828 link829 link830 link831 link832 link833 link834 link835 link836 link837 link838 link839 link840 link841 link842 link843 link844 link845 link846 link847 link848 link849 link850 link851 link852 link853 link854 link855 link856 link857 link858 link859 link860 link861 link862 link863 link864 link865 link866 link867 link868 link869 link870 link871 link872 link873 link874 link875 link876 link877 link878 link879 link880 link881 link882 link883 link884 link885 link886 link887 link888 link889 link890 link891 link892 link893 link894 link895 link896 link897 link898 link899

Penyakit Anak Yang Tidak Perlu Dan Perlu Diberi Antibiotika

pemberian obat pada anak

pemberian obat pada anak

Pemberian obat seperti antibiotika belakangan menjadi semakin meningkat serta semakin mengkhawatirkan. Pemberian obat antibiotika secara berlebihan atau dosis terlalu tinggi maupun tidak sesuai dengan indikasi penyakit pada anak, justru akan sangat berbahaya bagi si anak.

Dulu, Amerika yang merupakan negara maju pernah menghadapi permasalahan seperti ini sekitar dua puluh tahun yang lalu. Namun, saat ini masyarakat di Indonesia juga mulai mengalami masalah yang serius seperti ini.

Menurut sebuah penelitian di US National Ambulatory Medical Care Survey, pada tahun 1989, setiap tahun ada sekitar 84% anak di Amerika diberi obat antibiotika. Selain itu, mereka juga menemukan ada 47,9% resep obat pada anak-anak yang berumur 0 sampai 4 tahun yang juga terdapat obat antibiotika.

Menurut para ahli kesehatan di Amerika, angka tersebut sudah bisa dibilang relative mencemaskan. Dan ditahun yang sama, juga ditemukan suatu kuman yang justru menjadi resisten atau kuat terhadap pemakaian obat antibiotika karena penggunaan obat antibiotika secara berlebihan.

Pada tahun 1996 sampai tahun 2000, angka kejadian dari anak-anak usia 0 sampai 4 tahun yang mendapatkan antibiotika mengalami penurunan menjadi 38,1%. Sayangnya, di Indonesia masih belum ada data yang resmi tentang penggunaan obat antibiotika.

Tidak semua penyakit perlu diobati dengan penggunaan obat antibiotika. Rekomendasi serta penyuluhan sepertinya perlu dilakukan untuk membatasi pemberian obat antibiotika bagi anak-anak. Banyak orang-orang di Indonesia yang masih percaya dengan mitos, entah itu orang tua si anak itu sendiri, maupun dokter.

Beberapa kondisi penyakit anak yang tidak perlu diberi obat antibiotika, meliputi:

  • Pilek, panas dan disertai dengan batuk merupakan gejala dari Infeksi Saluran Pernapasan Atas. Umumnya, Infeksi Saluran pernapasan Atas atau ISPA lebih banyak disebabkan oleh serangan virus.
  • batuk pilek

    batuk pilek

    Warna dahak dan ingus yang berubah menjadi kuning kental, berlendir serta berwarna kehijauan juga merupakan salah satu gejala dari Infeksi Saluran Pernapasan Atas yang disebabkan oleh virus. Hal seperti ini tidak perlu diberi obat antibiotika, karena percuma saja.

  • Pemberian obat antibiotika tidak akan mempercepat kesembuhan suatu penyakit serta mencegah terjadinya infeksi karena adanya bakteri yang menumpang.
  • Penyakit yang dialami oleh anak-anak, kebanyakan adalah penyakit yang disebabkan oleh virus. Jadi, penggunaan obat antibiotika yang diperlukan tidaklah terlalu besar. Kebanyakan penyakit yang disebabkan oleh virus merupakan penyakit yang bisa sembuh dengan sendirinya dalam waktu sekitar 5 sampai 7 hari. Mayoritas penyakit anak, seperti batuk, pilek, diare maupun panas sebenarnya lebih disebabkan oleh serangan virus. Umumnya, anak-anak akan mengalami 2 sampai 9 kali penyakit saluran pernapasan karena virus. Sebaiknya, seorang anak yang mengalami masalah, seperti batuk, pilek hidung tersumbat; jangan langsung didiagnosis bahwa anak tersebut mengalami sinusitis. Selama tidak terjadi komplikasi, umumnya masalah seperti batuk, pilek serta keluarnya ingus akan hilang dengan sendirinya paling lama sekitar 14 hari.
  • Dalam sebuah penelitian terhadap 139 anak-anak pengidap pilek atau flu karena serangan virus yang diberi obat antibiotic tidak mampu memperbaiki kondisi cairan mucopurulent pada hidungnya. Itu berarti bahwa antibiotika tidak efektif dalam mengobati infeksi saluran pernapasan atas serta tidak mampu mencegah bakteri yang menumpang. Mayoritas penyakit infeksi saluran pernapasan atas termasuk penyakit sinus paranasal jarang sekali disebabkan oleh karena serangan bakteri.

Anak-anak baru memerlukan pemberian obat antibiotic, bila menampakan tanda-tanda atau mengalami penyakit, seperti dibawah ini:

  • Menurut CDC atau Centers for Disease Control and Prevention, anak-anak memerlukan pemberian antibiotika apabila mereka mengalami batuk pilek yang terus menerus berlanjut selama lebih dari 10 sampai 14 hari. Namun, apabila batuk dan pilek sering terjadi ketika malam maupun pagi hari, umumnya kondisi tersebut sangat berkaitan dengan alergi, jadi bukan termasuk fase infeksi sehingga tidak memerlukan antibiotika.
  • demam tifoid

    demam tifoid

    Bila terjadi infeksi sinusitis akut yang parah dan disertai dengan panas yang lebih dari 39° Celcius dan adanya tanda seperti cairan hidung purulent, rasa nyeri serta pembengkakan disekitar area mata dan wajah. Obat antibiotic yang bisa digunakan untuk mengurangi kondisi tersebut, meliputi Amoxicillin maupun Clavulanate. Bila dalam 2 sampai 3 hari kondisinya membaik, maka pengobatan bisa terus dilanjutkan sampai 7 hari. Keluhan akan semakin membaik selama 10 sampai 14 hari.

  • Radang tenggorokan karena infeksi bakteri streptococcus. Penyakit seperti ini umumnya terjadi pada anak-anak yang berusia 7 tahun ke atas. Anak-anak yang berusia 4 tahun jarang sekali terserang radang tenggorokan karena infeksi bakteri seperti ini, walaupun memang kemungkinan itu selalu ada.
  • Infeksi saluran kemih. Untuk mengetahui ada tidaknya infeksi bakteri, maka diperlukan tes kultur darah maupun tes urin. Bila dicurigai adanya penyakit infeksi pada saluran kemih, maka anak perlu menjalani tes urin. Setelah beberapa hari akan diketahui bila memang ada infeksi bakteri, jenis bakteri yang menyerang serta tingkat sensitivitas bakteri tersebut terhadap antibiotika.
  • Penyakit demam tipus. Untuk mengetahui ada tdak penyakit demam tipus harus dilakukan tes darah Widal serta kultur dari darah. anak yang berusia dibawah 5 tahun yang mengalami infeksi virus seringkali mengalami overdiagnosis penyakit demam tipus. Seringkali terjadi salah persepsi dalam pembacaan hasil tes laboratorium. Terkadang infeksi virus ada yang mampu menyebabkan adanya sedikit peningkatan pada nilai widal, dan si anak langsung divonis mengidap gejala penyakit tifus serta langsung diberi obat antibiotika.