Penyebab Dan Gejala Morning Sickness

Ibu yang sedang dalam kondisi hamil biasanya sering mengalami mual dan muntah yang dikenal dengan istilah “Morning Sickness” terutama sejak trimester pertama masa kehamilan.

Morning sickness adalah keluhan yang biasanya diutarakan oleh ibu hamil sejak masa awal kehamilan.

Masyarakat awam banyak yang mengira bahwa ibu hamil yang mengalami morning sickness hanya mengalami muntah dan mual di pagi hari saja, padahal di malam hari ibu hamil juga bisa mengalami morning sickness.

penyebab-dan-gejala-morning-sickness

Namun biasanya gangguan morning sickness akan reda sendiri ketika masa kehamilan menginjak usia 4 bulan.

Meski demikian ada beberapa laporan masuk mengenai ibu hamil yang mengalami muntah dan mual di pagi hari ketika memasuki masa trimester kehamilan.

 

Faktor Penyebab Morning Sickness

Menurut ilmu medis dan kesehatan ada beberapa hal yang bisa menjadi penyebab gejala morning sickness di pagi hari pada ibu hamil.

Morning sickness disebabkan oleh adanya perubahan hormon kehamilan yang bisa terjadi dimana saja, dalam keadaan apa saja dan kapan saja pada ibu hamil dimana pada trimester pertama ibu yang sedang hamil akan merasa terganggu dalam menjalankan aktivitas hariannya.

Morning sickness yang juga dikenal dengan istilah lain nausea gravidarum (NVP) atau Emesis Gravidarum adalah gejala mual yang biasanya juga disertai dengan muntah yang biasanya paling sering terjadi pada ibu hamil di masa trimester pertama masa kehamilan.

Lebih dari 50% ibu hamil mengalami kondisi morning sickness yang terjadi karena kadar hormon estrogen yang mengalami peningkatan.

Gejala yang sama juga bisa dialami oleh wanita yang menjalani bentuk-bentuk terapi hormonal tertentu atau yang menggunakan kontrasepsi hormonal.

Gejala morning sickness biasanya terjadi di pagi hari, walaupun juga bisa terjadi di malam hari dengan frekuensi yang semakin berkurang seiring dengan usia kehamilan yang terus bertambah.

morning-sickness

Berikut ini adalah faktor penyebab morning sickness diantaranya :

  • Hormon Progesterone yang mengalami peningkatan

Tingkat hormon progesterone yang mengalami peningkatan pada ibu hamil akan menyebabkan terjadinya pergerakan dari usus kecil, perut dan kerongkongan dimana hal ini bisa menimbulkan rasa mual.

 

  • Hormon Chorionic Gonadotropin yang mengalami peningkatan

Ibu yang sedang dalam kondisi hamil bisa memiliki resiko yang tinggi untuk mengalami rasa mual dan muntah pada masa awal kehamilan jika hormon Chorionic Gonadotropin mengalami peningkatan.

 

  • Kekurangan vitamin B6

Gejala morning sickness juga bisa terjadi akibat ibu hamil mengalami kekurangan vitamin B6 dimana hyperemesis gravidarum yang merupakan gejala yang lebih berat bisa mengakibatkan perawatan rumah sakit untuk melawan dehidrasi.

 

  • Meningkatnya sensitivitas pada bau

Para dokter memiliki pendapat bahwa sensitivitas pada hidung ibu hamil bisa dipengaruhi oleh hormon Esterogen yang mengalami peningkatan.

Namun hingga saat ini masih belum ada bukti klinis mengenai kebenaran apakah hormone estrogen bisa mempengaruhi sensitivitas pada hidung ibu hamil.

 

  • Stres

    stres karena pekerjaan

    stres karena pekerjaan

Para ahli medis memiliki pendapat bahwa rasa stres yang dialami oleh ibu hamil bisa memberikan respon negatif berupa rasa mual dan muntah-muntah.

Kondisi psikologis ibu hamil yang belum siap dengan oerubahan kondisi ke masa kehamilan juga bisa memicu stres.

Namun hal ini juga masih belum diperkuat dengan bukti medis, akan tetapi ibu hamil juga bisa merasa semakin stres jika mengalami rasa mual dan muntah.

 

  • Makanan Mengandung Gas

Ibu yang dalam kondisi hamil dilarang mengonsumsi makanan yang mengandung gas, makanan yang bersifat pedas, asam dan amis karena bisa merangsang rasa mual dan muntah.

Mengonsumsi makanan yang mengandung gas bisa membuat asam lambung mengalami kenaikan dimana bila ibu hamil tersebut memiliki penyakit maag maka penyakit asam lambungnya bisa kambuh kembali.

 

  • Meningkatnya produksi air liur

Pada trimester pertama kehamilan biasanya ibu hamil akan mengalami peningkatan produksi air liur di dalam tubuh dimana produksi air liur yang meningkat ini bisa memicu rasa mual di pagi hari.

 

 

Bagi mayoritas ibu hamil rasa mual dan morning sickness bisa bertahan lebih lama bahkan bisa bertahan selama masa kehamilan penuh atau 9 bulan.

Kondisi mual dan muntah bisa membahayakan kesehatan ibu dan janin karena kondisi ini bisa menyebabkan dehidrasi.

Kurang lebih ada sekitar 1,5% — 2% ibu hamil yang mengalami hiperemesis gravidarum yang merupakan gejala lebih berat dari morning sickness atau mengalami mual dan muntah dengan berlebihan.

Bila ibu hamil mengalami kondisi hiperemesis gravidarum maka ibu hamil tersebut biasanya sama sekali tidak bisa makan dan minum, lemah dan kekurangan tenaga, gangguan elektrolit, kekurangan cairan dan aktivitas sehari-hari pun menjadi terganggu.

Tentunya jika tidak segera diatasi maka kondisi hiperemesis gravidarum ini akan membahayakan keselamatan janin dalam kandungan.

Maka dari itu ibu hamil yang mengalami kondisi hiperemesis gravidarum sebaiknya dibawa ke rumah sakit karena kondisi tersebut bisa membahayakan kesehatan ibu hamil dan janin dalam kandungan.

Memasuki trimester kedua masa kehamilan biasanya gejala morning sickness akan mengalami penurunan dari sebelumnya seiring dengan menurunnya kadar hormon kehamilan.

Gejala morning sickness biasanya muncul setelah indra penciuman memberikan respon setelah mencium bau tertentu atau bau makanan, dan gangguan yang terjadi setelahnya adalah mual dan muntah.

mual dan muntah

mual dan muntah

Gejala mual yang disertai dengan muntah pada ibu hamil ini bisa terjadi di waktu yang tidak sama.

Gejala mual bisa terjadi pada ibu hamil di minggu keempat masa kehamilan, minggu kelima masa kehamilan dan bahkan juga bisa terjadi di minggu kedelapan masa kehamilan.

Ada pula ibu hamil yang baru merasakan gejala morning sickness setelah memasuki trimester II masa kehamilan.

Meski demikian ada pula sebagian ibu hamil yang tidak pernah merasakan gejala morning sickness selama masa kehamilan 9 bulan, namun kondisi ini jarang terjadi.