Penyebab Dan Riset Terbaru Tentang Meningkatnya Kasus TB Di Dunia

Robert Koch

Robert Koch

Seorang mikrobiolog berkebangsaan Jerman yang bernama Robert Koch telah berhasil mengidentifikasi kuman penyebab terjadinya infeksi tuberculosis atau biasa disebut TB pada 24 Maret 1882. Sejak saat itu, setiap tanggal 24 Maret diperingati sebagai Hari Tuberkulosis Sedunia.

Namun, sayangnya sampai saat ini masih belum ada negara yang bebas dari penyakit TB, termasuk di Indonesia ini. Dari data terakhir pada tahun 2013, ada sekirar 400.000 sampai 500.000 kasus TB yang baru di Indonesia.

Menurut beberapa ahli kesehatan, ada beberapa alasan mengapa penyakit TB masih belum bisa dihilangkan di dunia. Ada sekitar sepertiga penduduk dunia atau sekitar 2 miliar orang yang telah tertular bakteri TB. Namun, bakteri tersebut kebanyakan tidak aktif sehingga banyak orang yang tampaknya sehat-sehat saja.

Ketika daya tahan tubuh seseorang yang sudah tertular bakteri TB mulai menurun, maka bakteri tersebut mulai aktif kembali serta menimbulkan berbagai gejala-gejala dari penyakit TBC secara signifikan. Penularan di masyarakat akan terus menerus terjadi karena ada jutaan orang yang mengalami TB aktif di seluruh dunia.

Selain itu, alasan lain dari sulitnya menghentikan penyebaran bakteri TB adalah karena pasien pengidap TB itu sendiri. Banyak pasien yang mengidap TB tidak atau kurang patuh dalam menjalani proses pengobatan sampai tuntas.

Penyakit TB memerlukan waktu pengobatan sampai 6 bulan lamanya. Waktu tersebut terasa sangat lama bagi para pengidap TB, sehingga banyak pengidap TB yang berhenti untuk berobat di tengah jalan dan penyakit yang dialaminya tidak sembuh benar.

Sulitnya menghentikan penyebaran kasus TB juga sering terhambat dengan berbagai masalah lainnya, seperti adanya penyakit lain pada si pasien maupun kebiasaan buruk dari si pasien. Penyakit TB dengan diabetes, TB HIV serta TB rokok sangat sulit sekali untuk disebuhkan. TB pada perempuan juga relative sulit untuk disebuhkan.

penularan TB

penularan TB

Penularan TB akan terus menerus terjadi bila belum semua pengidap TB datang untuk berobat. Menurut para ahli kesehatan, kondisi seperti ini umumnya berhubungan dengan faktor social dan ekonomi dari masyarakat.

Seluruh anggota di WHO telah sepakat untuk menghentikan epidemic global dari penyakit tuberculosis dengan melakukan langkah-langkah yang ada dalam WHO’s End TB Strategy dalam waktu 20 tahun yang dimulai pada tahun 2015 sampai tahun 2035.

Kegiatannya tersebut sepenuhnya berorientasi pada si pasien, harus ada kebijakan serta system untuk mencegah, perawatan, peningkatan riset serta inovasi dalam hal pengobatan TB. Semuanya haru kita lakukan bersama-sama untuk menghentikan epidemic tuberculosis serta mengehntikan penyebaran TB di seluruh dunia.

Banyak kasus TB yang terjadi pada anak-anak. Ada sekitar satu juta anak-anak yang mengidap penyakit TB setiap tahunnya di dunia. Penyataan tersebut didapat dari sebuah studi untuk mengeluarkan perkiraan angka kasus resistensi obat TB pada orang-orang muda maupun anak-anak.

Banyak kasus tuberculosis serta penyakit TB yang resisten terhadap obat yang belum bisa dideteksi pada anak-anak. Para peneliti menemukan 999.800 pada orang-orang yang masih berusia muda serta anak-anak yang terserang TB pada tahun 2010.

Sekitar 40% kasus terjadinya TB banyak ditemukan di Asia Tenggara serta 28% lagi ditemukan di Afrika. Jumlah kasus TB yang terjadi pada anak-anak mencapai dua kali lipat dari perkiraan WHO pada tahun 2011.

Penelitian yang dilakukan oleh The Lancet bertepatan dengan hari TB sedunia juga menyoroti penyakit yang diperkirakan telah menewaskan 1,3 juta jiwa pertahun. Selain itu, para peneliti juga menyoroti tentang resistensi multi obat TB atau MDR-TB yang terjadi pada 32.000 anak-anak di tahun 2010.

tuberculosis

tuberculosis

Resistensi multi obat TB tersebut berarti ketidaktahanan obat yang digunakan dalam pengobatan TB, seperti rifampisin maupun isoniazid. Hal ini berarti bahwa pengobatan TB akan semakin sulit serta menjadi lebih mahal lagi.

Anak-anak memiliki resiko terserang penyakit TB lebih besar serta beresiko tinggi untuk meninggal karena resistensi multi obat TB, sekalipun mereka menampakan reaksi yang baik saat pengobatan. Diagnosa TB pada anak-anak memang lebih sulit untuk dilakukan kareba sebagian dari mereka tidak bisa batuk untuk diambil sampel dahaknya sebagai kebutuhan untuk diuji di laboratorium.

Diperlukan otoritas kesehatan untuk menetapkan sumber daya diagnose serta pengobatan penyakit menular paru-paru. Para ahli mengakui bahwa diagnosa TB serta resistensi multi obat TB pada anak-anak merupakan hal yang sangat sulit.

Ada kesenjangan yang besar dalam deteksi kasus TB maupun resistensi multi obat TB antara orang dewasa dengan anak-anak, khususnya dalam hal diagnose serta pengobatan. WHO mengungkapkan bagwa ada sekitar 450.000 orang yang mengalami MDR-TB pada tahun 2012 dan sekitar 170.000 orang yang masuk dalam daftar MDR-TB tersebut telah meninggal dunia.

Menurut WHO, kurang dari 20% pasien MDR-TB yang mendapatkan pengobatan secara tepat. Hampir 10% dari kasus MDR-TB berkembang menjadi resisten terhadap obat secara ektensif atau XDR, yaitu suatu jenis yang sangat luar biasa dalam hal resistensi terhadap obat.