Penyebab Munculnya Rasa Nyeri Pada Lutut

olahraga lari

olahraga lari

Olahraga lari merupakan salah satu olahraga yang mengandalkan kekuatan otot lutut serta kaki. Tidak heran bila banyak orang yang menganggap bahwa olahraga lari bisa menyebabkan kerusakan pada lutut. Namun, pemikiran seperti itu ternyata salah.

Ada sebuah penelitian yang telah membuktikan bahwa olahraga lari tidak menyebabkan kerusakan lutut. Dalam penelitian tersebut juga menyebutkan bahwa berjalan justru lebih berbahaya daripada berlari.

Dalam penelitian tersebut, para peneliti menganalisa orang dewasa yang melakukan olahraga lari, berjalan maupun kegiatan lainnya dan mengukur dampak, tekanan serta muatan yang ada pada setiap langkah seseorang dalam jarak tertentu. Hasilnya menunjukkan bahwa, berlari memang memberikan dampak 3 kali lebih besar daripada berjalan.

Namun, bila waktu yang digunakan oleh pelari ketika di udara digabungkan dengan jaraknya berlari, maka dampaknya hampir sama dan bahkan lebih sedikit bila dibandingkan dengan orang yang berjalan kaki. Maka dari itu, para peneliti mengambil kesimpulan bahwa berlari memberikan resiko lebih sedikit dibandingkan dengan berjalan.

Menurut Bill Hartman, seorang peneliti sekaligus pemilik pusat kebugaran Indianapolis Fitness and Sports Training menyatakan, bagi pelari yang sehat serta memiliki berat badan yang ideal, dampak pada lutut justru akan membuah tulang raan menjadi semakin kuat. Namun pada pelari yang berat badannya berlebihan, maka akan menyebabkan resiko penurunnya pergerakan atau mobilitas sendi karena adanya permasalahan pada bagian sendi di kemudian hari.

Maka dari itu, orang-orang yang memiliki berat badan berlebihan sebaiknya berusaha untuk menurunkan berat badannya dulu dengan melakukan olahraga lain yang tidak berdampak pada persendian khususnya lutut. Olahraga yang tidak terlalu berdampak pada persendian, contohnya renang.

olahraga jalan kaki

olahraga jalan kaki

Ketika seseorang berjalan, maka lutut akan mendapat tekanan sebanyak 2 sampai 3 kali lebih besar daripada berat badannya sendiri. Sedangkan ketika seseorang sedang berlari, tekanannya akan lebih besar lagi yaitu mencapai 5 sampai 12 kali lebih besar daripada berat badannya, namun tergantung dari kecepatan serta bentuk larinya.

Saat sedang berjalan seseorang menghabiskan sekitar 60% waktunya diatas tanah, sedangkan berlari hanya menghabiskan sekitar 30% waktu saja karena tubuhnya lebih banyak berada di udara. Maka, meskipun berlari memberikan tekanan yang lebih besar pada lutut namun tidak akan berlangung lama.

Selain itu, langkah yang dihasilkan saat berlari cenderung lebih panjang dan jauh jika dibandingkan dengan berjalan. Sehingga dengan berlari maka langkah yang dibutuhkan menjadi lebih sedikit untuk mencapai jarak yang sama bila dibandingkan dengan berjalan.

Persendian di bagian lutut merupakan sendi yang rentan serta kompleks. Ada begitu banyak faktor yang menyebabkan munculnya rasa nyeri pada lutut. Namun, penyebab nyeri lutut yang paling sering adalah karena adanya cedera, tekanan yang berlebihan pada lutut serta aus kerena penggunaan yang berulang-ulang.

Jenis olahraga yang dapat menyebabkan cedera lutut adalah olahraga yang kebanyakan menggunakan kaki untuk gerakan berlari maupun melompat, seperti sepak bola, basket dan juga bela diri. Cedera pada lutut bisa saja terjadi karena tahapan olahraga yang tidak benar, seperti kurangnya pemanasan atau bisa juga karena adanya kesalahan saat melakukan teknik dalam olahraga.

Cedera lutut karena olahraga biasanya sering terjadi pada orang-orang biasa yang bukan olahragawan. Mayoritas mereka tidak pernah melakukan olahraga sebelumnya dan secara tiba-tiba melakukan olahraga yang berat padahal otot-otot bagian kakinya masih belum begitu kuat.

Gejala yang sering terjadi dari cedera lutut adalah munculnya rasa nyeri pada bagian depan lutut, nyeri ketika melakukan gerakan seperti duduk maupun berdiri, lutut tidak dapat dilipat secara penuh dan bisa juga adanya rasa nyeri ketika turun atau naik tangga.

rematik pada bagian lutut

rematik pada bagian lutut

Bagi orang-orang yang tidak memiliki waktu luang untuk berolahraga, naik turun tangga sering dijadikan alternatif untuk menggantikan olahraga. Namun, kebiasaan seperti ini ternyata juga dapat memberikan dampak yang buruk pada lutut.

Salah satu dampak yang buruk dari kebiasaan naik turun tangga adalah adanya pengapuran pada lutut sejak dini. Kebiasaan naik turun tangga memang baik untuk kesehatan jantung namun bukan untuk lutut. Pengapuran atau osteoartritis merupakan penyakit yang sering terjadi pada orang-orang yang sudah berusia lanjut.

Kondisi seperti ini terjadi karena akibat dari perubahan tulang rawan yang umumnya licin serta berpelumas yang memiliki fungsi sebagai bantalan pada bagian ujung-ujung tulang persendian.Tulang rawan yang tingkat elastisitasnya mulai berkurang akan membuat persendian menjadi lebih rentan terhadap terjadinya kerusakan akibat cedera maupun akibat dari penggunaan secara berlebihan.

Banyak orang yang tidak menyadari bahwa dirinya mengidap osteoartritis, hingga akhirnya terdeteksi ketika dokter melakukan pemeriksaan dengan foto rontgen. Jika lutut mengalami pengapuran, maka perawatannya akan lebih difokuskan untuk mengurangi rasa tidak nyaman serta memperbaiki mobilitas persendian dengan cara melakukan latihan maupun obat-obatan.

Selain dapat menyebabkan pengapuran tulang sejak dini, orang yang memiliki kebiasaan naik turun tangga juga perlu waspada bila mengalami rasa nyeri pada lutut karena nyeri lutut bisa saja merupakan gejala dari cedera lutut.

Gejala lainnya yang akan muncul, adalah rasa nyeri pada bagian depan lutut serta lutut terasa kaku sehingga sulit untuk dilipat. Bila anda mulai merasakan hal-hal seperti ini, sebaiknya segera konsultasikan pada dokter spesialis orthopedi untuk mendapatkan diagnosa serta penanganan yang tepat.