Penyebab Sirosis Hati

Penyebab Sirosis Hati

Ada banyak sekali kemungkinan yang menyebabkan terjadinya sirosis hati. Terkadang bisa saja lebih dari satu penyebab yang terdapat pada satu pasien yang sama. Di Eropa dan Amerika, penyebab utama sirosis hati yang paling umum adalah konsumsi alkohol yang tidak terkontrol dan penyakit hepatitis C.

Selain itu juga banyak sekali penyebab terjadinya sisrosis hati selain dikarenakan konsumsi alkohol yang berlebihan.

Berikut ini adalah penyebab-penyebab terjadinya sirosis hati :

  • Alcoholic liver disease atau ALD – Penyakit hati pada seorang alkoholik. Sirosis beralkohol berkembang antara 10% hingga 20% dari individu yang sering minum minuman beralkohol selama satu dekade atau lebih. Alkohol tampaknya melukai hati dengan menghalangi sistem metabolisme normal seperti protein, lemak, dan karbohidrat. Pasien mungkin juga menderita hepatitis alkoholik bersamaan dengan demam, hepatomegali, sakit kuning, dan anoreksia. AST dan ALT keduanya tinggi tetapi kurang dari 300 IU / L dengan perbandingan AST: ALT rasio> 2.0, nilai jarang terlihat pada penyakit hati lainnya. Pengangkatan contoh kecil jaringan hati dapat menunjukkan adanya nekrosis hepatosit, ditemukan adanya sitoplasma dalam sel hati atau Mallory body, dan perembesan neutrophilic bersamaan dengan peradangan pada perivenular.

 

  • Non-alkohol steatohepatitis atau NASH — Pada NASH, terjadi penumpukan lemak pada hati yang mengakibatkan adanya jaringan parut. Jenis hepatitis tampak terkait dengan diabetes, kekurangan protein, obesitas, penyakit arteri koroner, dan pengobatan dengan obat kortikosteroid. Kelainan ini mirip dengan penyakit hati alkoholik tetapi pasien tidak memiliki sejarah alkohol. Biopsi atau pengangkatan kecil pada jaringan hati diperlukan untuk diagnosis.

 

  • Hepatitis C kronis — Infeksi dengan virus hepatitis C yang mengakibatkan peradangan pada hati dan kelas variabel kerusakan organ yang selama beberapa dekade dapat menyebabkan sirosis. Sirosis yang disebabkan oleh hepatitis C adalah alasan yang paling umum untuk transplantasi hati. Dapat didiagnosis dengan tes serologi yang mendeteksi antibodi hepatitis C atau RNA virus. The enzyme immunoassay, EIA-2, adalah tes skrining yang paling umum digunakan di Amerika Serikat.

 

  • Hepatitis B kronis — virus hepatitis B menyebabkan peradangan pada hati dan luka yang selama beberapa dekade dapat menyebabkan sirosis. Hepatitis D tergantung pada kehadiran hepatitis B dan mempercepat terjadinya sirosis pada infeksi yang bersamaan. Hepatitis B kronis dapat didiagnosis dengan deteksi HBsAg pada 6 bulan setelah infeksi awal. Deteksi dengan HBeAg dan HBV DNA bertujuan untuk menilai apakah pasien akan membutuhkan terapi antiviral atau tidak.

 

  • Primary biliary cirrhosis — Tanpa gejala, tapi kebanyakan pasien mengalami keluhan seperti hiperpigmentasi pada kulit, cepat lelah, pruritus atau gatal-gatal, dan sedikit adanya gejala penyakit kuning disertai dengan pembengkakan pada hati atau hepatomegali. Terjadi peningkatan yang menonjol pada enzim Alkaline phosphatase serta peningkatan kolesterol dan bilirubin. Diagnosis gold standar dengan menggunakan antibodi Antimitochondrial disertai dengan biopsi hati sebagai konfirmasi jika menunjukkan luka-luka pada saluran empedu. Hal ini lebih sering terjadi pada wanita.

 

  • Primary sclerosing cholangitis atau PSC — Adalah gangguan kolestasis progresif yang membuat pasien mengalami pruritus, adanya kelebihan lemak pada tinja atau steatorrhea, kekurangan vitamin yang larut dalam lemak, dan penyakit tulang metabolik. Ada hubungan yang kuat dengan penyakit radang usus atau IBD, terutama kolitis ulserativa. Diagnosis yang terbaik dengan kolangiografi kontras menunjukkan difus, multifokal dan pelebaran striktur fokal dari saluran empedu, yang bentuknya seperti manik-manik. Pemakaian non spesifik serum imunoglobulin juga dapat meningkat.

 

  • Autoimmune hepatitis — Penyakit ini disebabkan oleh kerusakan kekebalan dikarenakan adanya peradangan pada hati dan akhirnya menyebabkan jaringan parut dan sirosis. Temuan meliputi peningkatan pada serum globulin, terutama globulin gamma. Terapi dengan penggunaan prednison atau azathioprine juga menguntungkan. Pasien yang mengidap sirosis hati masih memiliki kesempatan untuk hidup sekitar 10-tahun lagi dengan angka sekitar lebih dari 90%. Tidak ada alat khusus untuk mendiagnosa autoimun tetapi dapat bermanfaat untuk memulai uji coba kortikosteroid.

 

  • Hereditary hemochromatosis — Biasanya terjadi pada pasien yang memiliki riwayat keluarga sirosis, hiperpigmentasi pada kulit, diabetes mellitus, gangguan dengan berbagai gejala yang timbul akibat akumulasi kristal kalsium pyrophosphate dihydrate di jaringan ikat atau pseudogout, atau kardiomiopati, semua karena tanda-tanda kelebihan zat besi. Hasil uji laboratorium akan menunjukkan kejenuhan transferrin lebih dari 60% dan feritin lebih dari 300 ng per mL. Pengujian genetik dapat digunakan untuk mengidentifikasi mutasi HFE. Jika hasil sudah ada, biopsi mungkin tidak perlu dilakukan. Pengobatan dengan terapi pengambilan contoh darah dari darah vena atau phlebotomy untuk menurunkan tingkatan kadar besi total pada tubuh.

  • Wilson’s disease atau penyakit wilson — Gangguan resesif autosomal yang ditandai dengan rendahnya serum seruloplasmin dan meningkatnya kandungan tembaga pada hati pada saat pemeriksaan melalui biopsi hati. Mungkin juga dengan adanya lingkaran hitam pada iris dikarenakan endapan tembaga pada membran descemet yang biasa disebut cincin Kayser-Fleischer di kornea dan perubahan status mental.

 

  • Alpha 1-antitrypsin atau A1AD — gangguan resesif autosomal yang dikarenakan pasien mungkin memiliki penyakit paru obstruktif kronis atau PPOK, terutama jika mereka memiliki riwayat kesehatan sebagai perokok berat. Dikarenakan serum AAT yang rendah. AAT rekombinan digunakan untuk mencegah penyakit paru-paru akibat defisiensi AAT.

 

  • Sirosis jantung. Karena kronis gagal jantung pada sisi kanan yang mengarah ke hati mengalami kemacetan.

 

  • Galaktosemia — Gangguan metabolisme genetik yang langka yang mempengaruhi kemampuan individu untuk memetabolisme galaktosa pada gula dengan benar. Sehingga membuat gangguan pada autosomal yang menjadikan individu kekurangan enzim yang bertanggung jawab sehingga terjadi pengurangan kadar galaktosa pada tubuh.

 

  • Penyimpanan glikogen penyakit tipe IV — Adalah gangguan metabolisme langka pada individu yang dikarenakan oleh faktor keturunan. Karena tidak adanya enzim tidak adanya enzim glikogen percabangan amylo-1,4-1, 6 transglucosidase, sehingga mengakibatkan rantai glukosa yang sangat panjang dan tidak bercabang pada glikogen dan mengakibatkan penumpukan dalam jaringan tubuh terutama jantung dan hati yang hasil akhirnya mengakibatkan sirosis hati dan kematian dalam jangka waktu 5 tahun.

 

  • Cystic fibrosis atau fibrosis kistik — Gangguan resesif autosomal kritis yang mempengaruhi paru-paru, pankreas, hati dan usus. Hal ini ditandai dengan pengangkutan klorida dan nartrium yang berlebihan pada lapisan epitel sehingga terjadi penumpukan dan bila menumpuk dalam hati akan menjadikan sirosis hati.

  • Hepatotoksik obat atau racun — Pemakaian obat-obatan seperti Acetaminophen atau lebih dikenal dengan nama parasetamol, juga dikenal dengan nama merek Tylenol dan Panadol biasanya ditoleransi dengan baik pada dosis yang sesuai dengan resep dokte. Tetapi overdosis adalah penyebab paling umum dari obat ini yang mengakibatkan terjadinya penyakit hati dan gagal hati akut di seluruh dunia. Kerusakan hati tidak karena obat itu sendiri tetapi karena adanya unsur metabolit toksik yaitu N-asetil-p-benzoquinon imina NAPQI, atau NABQI yang dihasilkan oleh sitokrom P-450 enzim dalam hati.

 

  • Lysosomal acid lipase deficiency atau Defisiensi LAL — Adalah suatu kondisi langka genetika autosomal resesif yang ditandai dengan pembengkakan hati, gangguan pada fungsi hati dan kandungan lemak yang berlebihan pada darah atau hiperlipidemia tipe II. Pembesaran limpa atau splenomegali dan bukti hipersplenisme ringan dapat berpengaruh pada beberapa pasien. Kasus ini tidak dapat diobati, Kekurangan LAL dapat menyebabkan fibrosis, sirosis, gagal hati dan kematian.