Protein Antikanker Dan Hepatitis Yang Murah Dan Mudah Masuk Ke Dalam Tubuh

diagram kanker hati

diagram kanker hati

Belakangan ini, banyak sekali kasus penyakit kanker serta hepatitis yang sulit sekali untuk disembuhkan. Meskipun penyakit kanker serta hepatitis masih bisa disembuhkan, namun obatnya masih mahal sekali.

Biaya untuk pengobatan penyakit kanker dan hepatitis sangat mahal harganya serta sulit didapat. Dr. Ratih Asmana Ningrum mencoba mengatasi masalah itu dengan mengembangbiakkan protein antikanker dan hepatitis interferon Alpha-2B dengan cara yang sederhana serta murah.

Karya Dr. Ratih Asmana Ningrum telah mengundang apresiasi dewan juri karena menyodorkan penelitian yang bersinggungan langsung dengan kondisi di Indonesia saat ini, yaitu semakin tingginya penyakit kanker serta hepatitis.

Dr. Ratih mengatakan bahwa pengobatan kanker dan hepatitis yang umumnya digunakan saat ini berbahan dasar yang sama, yaitu protein interferon Alpha-2B. “Dari laporan yang selama ini berkembang telah menyebutkan bahwa penggunaan protein ini cukup efektif karena tingkat kesembuhannya tinggi” kata Dr. Ratih.

Namun, kendala pemakaian protein Alpha -2B terletak dari biaya pengadaannya yang sangat mahal. Pengidap penyakit kanker dan hepatitis menjadi semakin kesulitan karena intensitas penggunaan yang tinggi.

Pengidap hepatitis diharuskan menggunakan protein Alpha -2B sebanyak 3 kali seminggu selama 48 minggu. Harga rata-rata protein interferon Alpha-2B berkisar Rp 2,5 juta untuk sekali pakai. Jadi biaya obat tersebut bisa mencapai Rp 360 juta. Belum termasuk ongkos atau biaya jasa dokter atau tenaga medis yang membantu dalam proses penyuntikan.

obat injeksi

obat injeksi

Biaya pengadaan protein interferon Alpha-2B tersebut dapat dicarikan solusi yang cara menciptakan produk lokal. Semenjak dua tahun terakhir, Dr. Ratih dibantu dengan teman-teman sesama dokter berusaha mengembangkan protein interferon Alpha-2B lokal.

Beliau menyatakan bahwa telah menciptakan serta mengembangbiakkan protein interferon Alpha-2B. Media pengembangbiakan protein tersebut adalah berupa mikroba dalam bentuk ragi yang umumnya digunakan dalam proses pembuatan tempe.

Dr. Ratih telah mengambil kode DNA atau deoxyribonucleic acid dari protein interferon Alpha-2B. Kemudian, kode DNA tersebut diberi tugas untuk berkembang biak di dalam media berupa ragi tempe.

Teknologi yang beliau gunakan untuk memindahkan DNA tersebut adalah teknologi rekombinan genetic-engineering dan hasilnya positif.

Persoalan tidak berhenti pada pengadaan protein interferon Alpha-2B secara mandiri atau dalam negeri saja. Namun, beliau juga berusaha untuk memodifikasi penggunaan dari protein antivirus tersebut.

Menurut Dr. Ratih, penggunaan protein interferon Alpha-2B dengan cara melalui injeksi atau suntik sangat tidak efektif.

“Bayangkan bila penderita kanker maupun hepatitis tadi adalah balita serta harus disuntik dengan obat ini setiap hari. Tentunya balita tersebut menjadi merasa tidak nyaman serta kasihan sekali melihatnya” ujar Dr. Ratih.

ragi tempe

ragi tempe

Penggunaan protein interferon Alpha-2B secara injeksi atau suntik tentunya juga sangat membutuhkan bantuan dari tenaga medis yang terlatih agar terhindar dari berbagai macam infeksi akibat suntikan protein Alpha-2B.

Untuk itulah, Dr. Ratih saat ini terus berupaya untuk memidifikasi protein interferon Alpha-2B agar dapat digunakan dengan cara oral atau terapi oral.

Dengan penggunaan secara oral, maka balita yang mengidap penyakit kanker maupun hepatitis tentunya tidak akan merasa kesakitan setiap hari. Balita yang mengalami penyakit kanker maupun hepatitis akan meminum protein Alpha-2B seperti layaknya minum multivitamin.